H. Yus Derahman Nyalakan Api Juang: 120 Pemuda Bangka Barat Siap Jadi Simbol Negara

MENTOK, BANGKA BARAT — Sidikpolisinews.id
Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, secara resmi membuka seleksi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Bangka Barat Tahun 2026 yang diikuti oleh 120 pelajar, Senin (13/4/2026) di Gedung Graha Aparatur.

Dalam pembukaan tersebut, Yus Derahman menegaskan bahwa seleksi Paskibraka bukan sekadar proses memilih peserta terbaik secara fisik, tetapi juga upaya membentuk karakter, kedisiplinan, serta jiwa nasionalisme generasi muda.

“Yang kita cari bukan hanya yang kuat secara fisik, tetapi yang memiliki jiwa, yang mampu menjaga kehormatan bangsa,” ujar Yus Derahman dalam sambutannya.

Sebanyak 120 peserta yang telah lolos seleksi administrasi akan mengikuti lima tahapan lanjutan meliputi tes fisik, mental, wawasan kebangsaan, kedisiplinan, hingga pembentukan karakter.

Ia juga mengingatkan bahwa tugas Paskibraka memiliki nilai historis yang kuat, merujuk pada momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, saat bendera merah putih pertama kali dikibarkan sebagai simbol kemerdekaan bangsa.

Menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus menjadi fondasi utama yang tidak hanya dipahami, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Di balik rangkaian pernyataan formal tersebut, suasana di dalam Gedung Graha Aparatur menyimpan cerita lain cerita yang tidak tertulis dalam laporan resmi, tetapi terasa nyata di wajah-wajah muda yang berdiri berbaris.

Sebanyak 120 pelajar itu datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang berasal dari wilayah pesisir, ada pula dari lingkungan kota dengan segala keterbatasannya. Namun pada pagi itu, semua perbedaan seolah melebur dalam satu tujuan yang sama.

Di barisan tengah, seorang peserta tampak menggenggam nomor dadanya dengan erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi sorot matanya menyimpan kegugupan. Ia sesekali menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.

Tak jauh darinya, seorang siswi merapikan kerah seragamnya berulang kali. Senyumnya tipis, seolah menjadi cara sederhana untuk menutupi rasa tegang yang tak terelakkan.

Momen-momen kecil itu menghadirkan gambaran bahwa seleksi ini bukan sekadar kompetisi, melainkan pengalaman emosional yang membentuk.

Dalam arahannya, H.Yus Derahman berupaya menggeser cara pandang peserta terhadap Paskibraka. Ia menekankan bahwa setiap gerakan dalam barisan memiliki makna yang berakar dari sejarah perjuangan bangsa.

“Bendera itu bukan sekadar kain. Ia adalah simbol perjuangan dan pengorbanan para pahlawan,” katanya.

Pernyataan tersebut seolah mengajak peserta untuk tidak hanya memahami tugas secara teknis, tetapi juga menghayati nilai di baliknya.

Di sudut ruangan, bendera merah putih tergantung dengan tenang. Tidak bergerak, tetapi menjadi pusat perhatian yang diam-diam menyatukan pikiran seluruh peserta.

Sebagian peserta tampak menatapnya dalam diam, seolah mencoba memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Seleksi ini, pada akhirnya, memang akan menghasilkan sejumlah nama yang terpilih. Namun proses yang dijalani seluruh peserta memiliki arti yang lebih luas.

Mereka tidak hanya belajar tentang baris-berbaris atau kedisiplinan, tetapi juga tentang bagaimana memaknai perjuangan dalam konteks kehidupan saat ini.

Di luar gedung, orang tua menunggu dengan harapan. Di dalam, anak-anak mereka sedang berproses bukan hanya untuk menjadi Paskibraka, tetapi untuk menjadi individu yang lebih memahami arti tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa.

Kepada panitia, H.Yus Derahman menegaskan pentingnya objektivitas dan integritas dalam proses seleksi.

“Pilih yang benar-benar layak. Yang tidak hanya mampu, tetapi juga memiliki karakter,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa hasil seleksi bukan hanya menentukan siapa yang akan bertugas pada upacara kenegaraan, tetapi juga mencerminkan kualitas generasi muda Bangka Barat.

Ketika acara pembukaan berakhir, suasana tidak diwarnai euforia berlebihan. Yang tersisa justru ketenangan yang sarat makna.

Bagi 120 peserta itu, hari tersebut menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Sebuah proses yang tidak hanya menguji kemampuan, tetapi juga membentuk cara pandang mereka terhadap bangsa dan diri sendiri.

Di Gedung Graha Aparatur, pagi itu, seleksi Paskibraka tidak hanya menjadi agenda tahunan.

Ia menjadi ruang di mana semangat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kembali dihidupkan dalam langkah-langkah kecil, dalam tekad yang tumbuh diam-diam dan dalam kesadaran baru yang mulai berakar di dada generasi muda.

Di tengah proses itu, kehadiran H.Yus Derahman menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak pernah lepas dari bagaimana generasi mudanya dibentuk hari ini.

Sebuah pesan yang mungkin tidak diucapkan keras, tetapi terasa jelas bahwa perjuangan belum selesai dan kini, tongkat estafet itu mulai berpindah ke tangan mereka.

Penulis : Belva dan tim(Srikandi Babel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *