Sidik Polisi News.id, Lampung Tengah – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diduga memicu pergeseran konsumsi masyarakat yang berdampak pada kelangkaan Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lampung Tengah.
Kondisi ini menyebabkan antrean kendaraan mengular dan stok Pertalite cepat habis, terutama pada siang hari.
Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite sejak penyesuaian harga Pertamax diberlakukan.
Peralihan pengguna dari Pertamax ke Pertalite diduga mempercepat habisnya stok BBM bersubsidi tersebut di SPBU.
Burhan, pengendara minibus di Lampung Tengah, mengatakan kondisi tersebut sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Ia menyebut antrean kendaraan kini menjadi pemandangan sehari-hari di SPBU.
“Sekarang cari Pertalite sulit. Banyak yang biasanya pakai Pertamax beralih ke Pertalite,” ujar Burhan, Minggu (14/6/2026).
Ia menambahkan, stok Pertalite di beberapa SPBU kerap habis sebelum siang hari.
“Sekitar jam 13.00 WIB biasanya sudah habis. Pengisian ulang baru sore atau malam,” katanya.
Menurut Burhan, antrean kendaraan, terutama minibus, bisa mencapai belasan unit dengan waktu tunggu lebih dari setengah jam. Dalam beberapa kondisi, antrean bahkan mengular hingga mendekati satu kilometer.
Ia juga menyebut gejala kelangkaan sebenarnya sudah terlihat sebelum pengumuman resmi kenaikan harga Pertamax.
Pada 5–7 Juni, pasokan Pertamax dan sejumlah Pertashop dilaporkan sempat kosong.
“Waktu itu Pertamax sempat langka, kami sudah curiga akan ada kenaikan,” ujarnya.
Meski harus mengantre lama, Burhan memilih tetap membeli BBM di satu SPBU dibanding mencari lokasi lain yang belum tentu memiliki kondisi lebih baik.
“Daripada pindah-pindah tapi sama saja, lebih baik antre di sini,” katanya.
Berdasarkan penyesuaian harga yang berlaku mulai 10 Juni 2026, harga BBM non-subsidi di wilayah Lampung mengalami perubahan.
Pertamax (RON 92) tercatat naik menjadi Rp16.650 per liter, dari sebelumnya Rp12.600 per liter.
Di lokasi terpisah, seorang warga bernama Kasman yang juga pengantre BBM solar mengeluhkan kondisi antrean yang semakin panjang. Ia menilai situasi ini mengganggu aktivitas kerja masyarakat.
“Sekarang antreannya luar biasa, bahkan sebelum kenaikan diumumkan sudah ramai. Kalau antre solar bisa sampai pinggir jalan, sangat lama,” ujarnya.
Ia menyebut antrean solar terjadi karena proses distribusi dan pembongkaran yang membuat waktu tunggu semakin panjang, terutama saat pasokan di SPBU lain kosong.
Kasman berharap kondisi tersebut segera tertangani agar aktivitas masyarakat tidak terus terganggu akibat waktu yang habis di SPBU.
(Sidik Polisi News.id / Harry Irawan)















