SidikPolisiNews.Id, Lampung Tengah -Warga Kampung Sidomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah hingga saat ini belum merasakan dampak signifikan dari musim kemarau.
Meskipun sudah ramai kabar Lampung bakal mengalami El Nino Godzilla atau fenomena kemarau ekstrem yang panjang.
Para petani di wilayah itu justru tengah memasuki fase penting dalam Musim Tanam 2 (MT2), dengan kondisi lahan yang masih cukup baik dan pasokan air masih melimpah.
Sebagian besar petani saat ini telah melakukan pemeliharaan tanaman padi pada minggu pertama MT2.
Diketahui, sumber air pertanian di wilayah Lampung Tengah bersumber dari beberapa tempat, seperti Sistem Sungai Way Sekampung, yang merupakan salah satu sumber terbesar.
Air dari sungai Way Sekampung disadap melalui Bendung Argoguruh di Desa Tegineneng (Kecamatan Natar, perbatasan Lampung Tengah) yang mengalirkan air ke jaringan irigasi teknis di wilayah Lampung Tengah dan Lampung Timur.
Lalu ada Daerah Irigasi (DI) Punggur Utara, wilayah ini merupakan bagian dari sistem Sekampung yang melayani kawasan pertanian di Kabupaten Lampung Tengah. Khususnya di daerah Trimurjo, Punggur, dan Kotagajah.
Selain Way Sekampung, Sungai Seputih juga merupakan sumber air permukaan yang vital bagi pertanian di wilayah Lampung Tengah.
Wanto selaku petani setempat mengatakan, Irigasi menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan air di sawah.
“Sistem pengairan di wilayah kami terbilang berjalan optimal, dengan aliran air yang terdistribusi dari saluran primer hingga tersier, bahkan sampai ke petakan sawah. Kondisi ini membuat tanaman tetap terjaga meskipun cuaca mulai menunjukkan pola kemarau,” kata Wanto, Minggu (12/4/2026).
Wanto mengatakan, cuaca di Sidomulyo dalam beberapa pekan terakhir masih didominasi hujan ringan hingga sedang, terutama pada sore hingga malam hari.
Menurutnya, hujan yang turun secara rutin membantu menjaga kelembaban tanah, sehingga belum terlihat tanda-tanda kekeringan seperti yang dikhawatirkan.
Sementara, kata dia, para petani di wilayah ini umumnya menanam padi hingga tiga musim dalam setahun.
Pada musim ketiga, sebagian petani mulai beralih menanam palawija seperti jagung. “Kalau irigasinya lancar, ancaman utama yang tetap diwaspadai bukanlah kekeringan, tapi serangan hama, khususnya hama sundep pada awal tanam dan hama tikus menjelang panen,” kata dia.
Wanto mengatakan, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa serangan hama dapat menyebabkan kegagalan panen, bahkan memaksa petani melakukan tanam ulang.
Dia mengaku, untuk mengantisipasi hal ini, petani aktif melakukan pengendalian, seperti penggunaan racun tikus dan gropyokan secara bersama-sama.
Namun, kata Wanto, jika kondisi air mulai menipis, petani telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menggunakan pompa air alkon.
Meski efektif, kata dia, metode ini membutuhkan biaya tambahan, terutama untuk pembelian bahan bakar yang bisa mencapai dua liter bensin per sekali penggunaan.
“Kalau petani di Sidomulyo mengikuti pola tanam yang telah diatur pemerintah, yang disesuaikan dengan jadwal distribusi irigasi, termasuk saat memasuki musim kemarau,” tuturnya.
Selain itu, lanjut Wanto, ia juga mendapatkan dukungan berupa bantuan obat hama dan penyuluhan dari dinas pertanian setempat.
Dia berharap pemerintah dapat terus memberikan perhatian khusus terhadap sektor pertanian, terutama jika kemarau ekstrem benar-benar terjadi.
Mengingat siklus tanam padi yang berlangsung hampir sepanjang tahun di Lampung Tengah, keberlanjutan produksi pangan sangat bergantung pada kestabilan air dan perlindungan terhadap hama.
“Melihat kondisi tanam musim kedua saat ini, petani Sidomulyo masih optimistis dapat menjalani musim tanam dengan baik. Tapi kalau kemarau panjang benar terjadi, semoga pemangku kebijakan dapat mengelola air dengan baik untuk kami para petani padi sawah,” tutupnya.
(SIDIK POLISI NEWS.ID/HARRY IRAWAN)















