Pendidikan Pela Gandong, Solusi Nyata untuk Perdamaian dan Kemajuan Maluku

Pendidikan Pela Gandong, Solusi Nyata untuk Perdamaian dan Kemajuan Maluku

Editorial oleh: Dois Wamese

Www SidikPolisi,News i’d’ Namlea “Kabupaten Buru” (21/8/2025)
Maluku terus berada dalam lingkaran konflik sosial yang melelahkan. Setiap tahun, berita pertikaian antara desa, pertikaian pemuda, hingga gesekan politik lokal hampir menjadi rutinitas. Ironisnya, akar persoalan ini bukan semata-mata soal ekonomi atau politik, melainkan lemahnya internalisasi nilai-nilai lokal, terutama pela gandong, pada generasi muda.

Pela gandong bukan sekadar istilah adat. Ia adalah filosofi hidup yang mengajarkan persaudaraan, saling menghormati, dan penyelesaian masalah tanpa kekerasan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan komunitas berbeda agar bisa hidup rukun meski memiliki latar belakang berbeda. Namun, warisan ini kini sering hanya menjadi retorika di atas kertas, tanpa praktik nyata. Bahkan, generasi muda yang seharusnya menjadi benteng nilai ini justru tumbuh dalam budaya baku lipa, berlomba menang sendiri sesama orang yang seharusnya dianggap saudara.

Pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, harus bertindak nyata. Sudah saatnya ada mata pelajaran muatan lokal tentang pela gandong yang diajarkan sejak dini di sekolah. Materi ini harus lebih dari sekadar sejarah atau cerita rakyat; ia harus mengajarkan keterampilan hidup: bagaimana menyelesaikan konflik, membangun empati, bekerja sama lintas komunitas, dan menegakkan solidaritas antara desa.

Tanpa pendidikan nilai ini, Maluku akan terus terkunci dalam pola yang kontraproduktif: masyarakat gigih memperkuat kelompok sendiri, tetapi lemah dalam membangun kesejahteraan bersama. Anak muda akan tumbuh menjadi individu yang pandai baku lipa antara orang sebangsa, tapi malas berjuang untuk Maluku secara kolektif. Padahal, jika nilai pela gandong ditanamkan sejak sekolah, generasi berikutnya bisa menjadi pionir perdamaian dan pembangunan, bukan hanya menjadi penonton konflik yang tak berujung.

Kita tidak bisa lagi menunggu tragedi atau gesekan baru untuk sadar. Pendidikan adalah kunci, dan Dinas Pendidikan memiliki tanggung jawab moral dan strategis. Membuat pela gandong menjadi bagian kurikulum bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi soal menyelamatkan masa depan Maluku. Bila pendidikan gagal menanamkan solidaritas dan empati, seluruh upaya pembangunan ekonomi, sosial, dan politik akan selalu terhambat oleh konflik yang seharusnya bisa dihindari.

Maluku punya kekayaan budaya dan potensi luar biasa, tetapi semua itu akan sia-sia jika nilai persaudaraan tidak diwariskan dan dipraktikkan. Sudah waktunya kita bergerak lebih tajam: Pela gandong harus hidup di hati anak-anak kita, di ruang kelas, dan di setiap kebijakan publik. Hanya dengan itu, Maluku bisa benar-benar maju, damai, dan sejahtera.*(“A H,Besugi”)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *