Masa Depan Bangka Barat Dititipkan: Duta Genre Jadi Garda Depan atau Agen Pembangunan
MENTOK, BANGKA BARAT — Sidikpolisinews.id
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat secara terbuka menempatkan generasi muda sebagai poros utama pembangunan masa depan, ketika Bupati Markus, S.H., menegaskan bahwa arah daerah ini bergantung pada remaja dalam Grand Final Duta Generasi Berencana (Genre) 2026, Senin (20/4/2026) di Gedung Majapahit Unmet PT Timah Tbk.
“Nasib Bangka Barat ke depan ada di tangan generasi penerus bangsa,” ujar Markus di hadapan para finalis, menegaskan posisi strategis remaja tidak lagi sekadar sebagai objek pembinaan, melainkan sebagai aktor yang diharapkan mampu menjawab berbagai krisis sosial.
Pernyataan itu disampaikan di tengah pengakuan pemerintah daerah bahwa persoalan mendasar seperti stunting belum sepenuhnya terselesaikan. Meski angka prevalensi telah ditekan di bawah 14 persen, sejumlah desa masih mencatat angka di atas 20 persen menjadi indikator bahwa pembangunan belum merata hingga ke lapisan terbawah.
“Kabupaten Bangka Barat saat ini masih dihadapkan dengan permasalahan stunting. Masih ada beberapa desa dengan angka di atas 20 persen,” kata Markus.
Dalam kerangka tersebut, Pemkab Bangka Barat mendorong program Duta Genre sebagai bagian dari strategi pembangunan berbasis perilaku dan kesadaran generasi muda. Program ini diarahkan untuk menekan pernikahan dini, seks pranikah, hingga penyalahgunaan napza. Persoalan yang dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
“Saya harapkan kegiatan ini dapat menjadi wadah kreativitas dan inovasi remaja untuk membantu program pemerintah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Markus menekankan bahwa program tersebut tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Ia mengingatkan pentingnya hasil konkret dari keterlibatan remaja dalam program pembangunan.
“Tidak hanya sekadar seremonial belaka tanpa ada hasil yang nyata,” tegasnya.
Pemerintah daerah juga mengaitkan pentingnya peran remaja dengan momentum bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif diperkirakan akan mendominasi dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan yang membutuhkan persiapan sejak dini.
“Perlu persiapan sejak dini dalam menghadapi bonus demografi tersebut,” kata Markus.
Namun di balik kerangka kebijakan tersebut, terdapat realitas sosial yang lebih kompleks. Para finalis Duta Genre yang tampil di panggung bukan hanya representasi program, tetapi juga cerminan kondisi remaja Bangka Barat secara umum mulai dari keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, tekanan ekonomi keluarga, hingga persoalan sosial yang membentuk perjalanan hidup mereka.
Bagi sebagian dari mereka, keikutsertaan dalam ajang ini menjadi ruang untuk mendapatkan pengakuan, sekaligus peluang untuk keluar dari keterbatasan yang selama ini membatasi pilihan hidup.
Dalam sambutannya, Markus juga menyampaikan pesan moral kepada generasi muda agar mampu memanfaatkan masa remaja secara produktif.
“Jangan sia-siakan masa remaja dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikan kalian remaja yang cerdas dan tangguh,” ujarnya.
Ia menutup sambutan dengan pantun sebagai bagian dari pendekatan budaya, yang menegaskan bahwa dinamika remaja merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembangunan.
“Banyak remaja ke Pulau Nangka,
Mendayung perahu dengan hati-hati,
Banyak remaja pasti banyak dinamika,
Dimanapun berada Genre selalu di hati.”
Grand Final Duta Genre 2026 pada akhirnya tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga menegaskan arah kebijakan pembangunan daerah bahwa masa depan Bangka Barat sedang diproyeksikan melalui generasi mudanya.
Namun di balik optimisme tersebut, tersisa pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab sejauh mana remaja benar-benar diberdayakan untuk membangun masa depan dan sejauh mana mereka hanya menjadi tumpuan harapan di tengah keterbatasan yang masih ada.
Di antara sorotan panggung dan narasi kebijakan, pembangunan generasi muda di Bangka Barat terus berjalan pelan, kompleks dan penuh harapan yang belum selesai dituliskan.
Penilis : Belva dan tim
(Srikandi Babel)















