Ketika Meja Judi Jadi Pemicu Api, Rumah Warga Hangus Akibat Pembiaran

SIDIKPOLISINEWS.ID || NTT, Malaka – Asap hitam membumbung tinggi di langit Pasar Besitaek, Kabupaten Malaka, membawa aroma kepedihan yang mendalam. Apa yang bermula dari keriuhan meja judi, berakhir menjadi tragedi kemanusiaan. Tawuran hebat pecah, meninggalkan jejak kehancuran berupa rumah yang hangus terbakar dan kendaraan yang hancur berantakan.

Namun, di balik puing-puing bangunan yang masih berasap, tersimpan satu pertanyaan besar yang menyesakkan dada warga: Mengapa judi dibiarkan hingga api konflik menyulut segalanya?

Insiden berdarah ini terjadi di tengah keramaian hari pasar, momen yang seharusnya menjadi pusat denyut ekonomi warga. Konflik pecah melibatkan kelompok pemuda dari wilayah Wanibesak, Kecamatan Wewiku. Ketegangan yang semula hanya berupa adu mulut di area perjudian, dengan cepat bereskalasi menjadi aksi anarkis yang tak terkendali.

Warga yang berada di lokasi kejadian menggambarkan suasana mencekam saat massa mulai membabi buta. Lemparan batu, senjata tajam, hingga percikan api yang sengaja disulut ke hunian warga mengubah pasar menjadi medan perang.

“Kalau judi ini tidak dibiarkan, mungkin tidak akan sampai rumah orang dibakar. Ini kelalaian serius!” ujar salah satu warga dengan nada getir sembari menatap rumahnya yang kini tinggal arang.

Suara warga di lapangan senada: Perjudian adalah sumbu ledaknya. Selama ini, aktivitas perjudian di area tersebut seolah menjadi “rahasia umum” yang tak tersentuh hukum. Pembiaran yang berlangsung berlarut-larut menciptakan bom waktu yang akhirnya meledak tepat di wajah masyarakat sipil.

Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian mengenai alasan di balik “dinginnya” penindakan terhadap aktivitas perjudian tersebut. Absennya langkah konkret pencegahan sebelum konflik pecah menjadi rapor merah yang dipertanyakan publik.

Meski tidak ada laporan resmi mengenai korban jiwa, luka yang ditinggalkan jauh lebih dalam dari sekadar fisik. Kerugian materiil yang dialami warga sangat nyata. Mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam pusaran judi maupun tawuran, kini harus menanggung beban kehilangan tempat tinggal dan harta benda.

Masyarakat kini tidak hanya menuntut keadilan, mereka menuntut pertanggungjawaban.

Gelombang desakan kini mengarah kuat kepada aparat penegak hukum. Warga mendesak kepolisian untuk berhenti melakukan tindakan “pemadam kebakaran” yang hanya bergerak saat api sudah besar.

* Tangkap pelaku tawuran: Sebagai konsekuensi hukum atas kekerasan.

* Bongkar praktik perjudian: Sebagai langkah memutus rantai konflik dari akarnya.

* Hentikan pembiaran: Agar warga tak lagi menjadi tumbal dari kelalaian otoritas.

Pasar Besitaek hari ini adalah saksi bisu bahwa hukum yang setengah hati hanya akan melahirkan anarki. Jika meja judi tetap dibiarkan berdiri tegak, maka kedamaian di Malaka akan selalu berada di ujung tanduk. (Roy S)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *