Papua barat- sidikpolisinews Paniai — Mahasiswa asal Kabupaten Paniai yang sedang menempuh studi di Manokwari, Papua Barat, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap Pemerintah Daerah Paniai, baik eksekutif maupun legislatif. Melalui unggahan resmi di media sosial Facebook pada Sabtu, 23 November 2025, mereka menegaskan bahwa tidak ada bantuan apa pun dari pemerintah terkait pemulangan jenazah salah satu mahasiswa asal Paniai.
Martinus Zonggonau, mewakili mahasiswa Manokwari, menjelaskan bahwa mereka terpaksa menanggung seluruh biaya pemulangan jenazah Almarhum Onalince Bunai, mahasiswa aktif Universitas Papua (UNIPA), Program Studi Kehutanan semester 7, asal Kampung Poge, Distrik Paniai Timur.
Menurut Martinus, mahasiswa telah menghubungi Pemerintah Kabupaten Paniai sejak Kamis, 20 November hingga Sabtu, 22 November 2025. Namun tidak ada satu pun respons ataupun konfirmasi dari pihak pemerintah.
Perjalanan Panjang dan Penuh Duka, Karena tidak ada dukungan biaya dari Pemerintah Daerah Paniai, mahasiswa memutuskan untuk memberangkatkan jenazah melalui akses laut. Jenazah diangkut menggunakan kapal kecil Napan Wainame dari Pelabuhan Marampa, Manokwari, menuju Wasior, Kabupaten Teluk Wondama.
Kapal diperkirakan tiba di Wasior pada Minggu dini hari. Dari sana, jenazah diturunkan dan dibawa melalui akses darat menggunakan mobil lintas Wasior–Nabire. Perjalanan dilanjutkan tanpa jeda hingga jenazah tiba di Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Sebelumnya, mahasiswa telah mencoba bernegosiasi dengan pihak maskapai di Bandara Rendani Manokwari. Namun biaya kargo jenazah yang ditetapkan maskapai sebesar Rp 70 juta, sehingga tidak dapat dipenuhi oleh mahasiswa. Alhasil, opsi pemulangan via udara batal total.
Kronologi Wafatnya Almarhum Onalince Bunai meninggal dunia pada Kamis, 20 November 2025, pukul 11.12 WIT di Rumah Sakit Provinsi Papua Barat. Lima menit setelah dinyatakan meninggal, jenazah dibawa ke Asrama Wissel Meren, Amban, Manokwari—tempat berkumpulnya mahasiswa asal Paniai.
Martinus menegaskan bahwa situasi yang mereka alami sangat menyedihkan. Mahasiswa Paniai Kota Study Manokwari merasa pemerintah Paniai seolah tidak adil pada saat warganya menghadapi musibah dan situasi darurat kemanusiaan.
“Kami seperti tidak ada harganya di mata Pemerintah Paniai. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang apabila ada mahasiswa yang meninggal di tanah rantau, baik di dalam maupun di luar Indonesia,” tegas Martinus.
Tiba di Nabire, Setelah menempuh perjalanan laut dan darat selama empat hari, jenazah Almarhum Onalince Bunai akhirnya tiba di Kabupaten Nabire pada Minggu, 23 November 2025, pukul 05.23 WIT.
Redaksi : M. Do















