banner 728x250

Fachriansyah: Nyungkur Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Masa Depan Pariwisata Bangka Barat

banner 120x600
banner 468x60

MENTOK, BANGKA BARAT -Sidikpolisinews.id
Di saat sebagian masyarakat Tempilang mulai khawatir tradisi Nyungkur perlahan menghilang akibat berkurangnya hasil tangkapan udang rebon, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat Fachriansyah justru melihat peluang yang jauh lebih besar.

Di matanya, Nyungkur bukan hanya tradisi menangkap udang menggunakan alat sederhana bernama sungkur. Lebih dari itu, aktivitas turun-temurun masyarakat pesisir tersebut bisa menjadi ikon wisata budaya Bangka Barat yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara.

banner 325x300

“Kalau kami melihat di lapangan, Nyungkur memiliki potensi yang sangat besar sebagai wisata budaya. Tradisi ini tidak dimiliki semua daerah. Justru karena keunikannya itulah, Nyungkur mempunyai nilai jual yang tinggi sebagai atraksi wisata,” kata Fachriansyah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/7/2026).

Belakangan, nelayan Tempilang mengeluhkan hasil tangkapan udang rebon yang terus menurun. Kondisi itu dikhawatirkan akan berdampak terhadap keberlangsungan tradisi Nyungkur yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir selama puluhan tahun.

Namun menurut Fachriansyah, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni atau festival tahunan.

Ia menilai sebuah tradisi akan bertahan apabila masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara langsung dari budaya yang mereka warisi.

Karena itu, pendekatan yang harus dibangun bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru.

“Kalau tradisi itu mampu memberikan penghasilan kepada masyarakat, maka masyarakat sendiri yang akan menjaga dan mempertahankannya,” ujarnya.

Fachriansyah memiliki konsep yang berbeda dalam mengembangkan Nyungkur.
Ia ingin wisatawan tidak hanya datang untuk menonton.
Sebaliknya, wisatawan diajak menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tempilang.

Bayangan itu dimulai sejak dini hari. Wisatawan menginap di rumah warga melalui program homestay, kemudian bangun sebelum matahari terbit mengikuti nelayan menuju pesisir.

Di sana mereka belajar menggunakan sungkur, berjalan di hamparan pantai saat air surut, menangkap udang rebon bersama masyarakat, lalu kembali untuk mengolah hasil tangkapan menjadi terasi khas Tempilang.

“Bayangkan wisatawan datang ke Tempilang bukan hanya menikmati pantainya. Mereka ikut turun ke laut bersama nelayan, belajar menggunakan sungkur, menangkap udang rebon, kemudian menikmati hasil tangkapan yang diolah menjadi terasi khas Tempilang. Pengalaman seperti itu tidak bisa ditemukan di banyak tempat,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman seperti inilah yang kini banyak dicari wisatawan.
Bukan lagi sekadar destinasi indah untuk berfoto, melainkan pengalaman otentik yang menghadirkan interaksi langsung dengan budaya lokal.

Konsep tersebut diyakini mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa.

Wisatawan yang menginap akan menggunakan jasa homestay milik warga, membeli makanan di warung lokal, menyewa transportasi, menggunakan jasa pemandu wisata, hingga membeli produk UMKM.

“Kalau wisatawan menginap satu malam, dua malam, bahkan satu minggu, maka manfaat ekonominya akan dirasakan langsung masyarakat. Ada homestay, ada kuliner, ada jasa pemandu wisata, ada transportasi lokal, hingga penjualan produk UMKM,” jelasnya.

Karena itu, Fachriansyah menilai Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) perlu diperkuat agar mampu mengelola wisata berbasis masyarakat secara profesional.

Bagi Fachriansyah, cerita Nyungkur tidak selesai ketika nelayan pulang membawa udang rebon.
Justru di situlah rantai ekonomi berikutnya dimulai.

Udang rebon yang selama ini diolah menjadi terasi memiliki potensi besar menjadi oleh-oleh khas Bangka Barat apabila dikembangkan melalui kemasan yang lebih modern dan pemasaran yang lebih luas.

“Ketika wisatawan pulang, mereka tidak hanya membawa kenangan mengikuti Nyungkur. Mereka juga membawa terasi Tempilang yang sudah dikemas secara modern. Dari situlah promosi akan berjalan secara alami karena mereka akan menceritakan pengalaman itu kepada orang lain,” katanya.

Untuk mendukung hal tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berencana membangun kolaborasi dengan Dinas Koperasi dan UKM, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, BUMDes, hingga pelaku UMKM.

Program tersebut meliputi pelatihan pengolahan produk secara higienis, desain kemasan, penguatan merek, hingga perluasan akses pemasaran.

“Kami akan berkomunikasi dengan OPD terkait agar masyarakat mendapatkan pelatihan. Bukan hanya cara mengolah, tetapi juga bagaimana mengemas produk dengan baik serta memasarkannya melalui BUMDes maupun Koperasi Merah Putih,” ujarnya.

(Srikandi / Belva)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *