Sidikpolisinews.id MEULABOH – Retensi atau bertahannya tenaga kesehatan (nakes) di fasilitas pelayanan medis ternyata tidak melulu soal materi. Faktor lingkungan kerja yang suportif, rasa dihargai, dan kolaborasi yang sehat justru menjadi kunci utama agar para nakes tidak angkat kaki dari pekerjaannya.
Hal tersebut disampaikan oleh tokoh pemuda/praktisi asal Aceh Barat, Amanda, dalam sebuah wawancara bersama wartawan pada Selasa (16/6/2026).
Menurut Amanda, beban kerja nakes saat ini semakin tinggi seiring melonjaknya jumlah pasien yang tidak sebanding dengan ketersediaan jumlah tenaga medis. Fenomena ini memicu tekanan berat di lapangan.
“Dalam praktik sehari-hari, perawat harus menangani banyak pasien dalam satu shift, dokter dituntut mengambil keputusan cepat dan tepat, apoteker bertanggung jawab menjamin keamanan terapi obat, dan nakes lainnya juga menghadapi tekanan yang tidak ringan,” ujar Amanda.
Amanda memberikan gambaran konkret di ruang perawatan intensif (ICU), di mana pasien membutuhkan pemantauan 24 jam dan tindakan yang sangat presisi. Di ruang kritis ini, koordinasi ketat antara dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, hingga fisioterapis adalah harga mati.
Jika komunikasi tersumbat dan ego sektoral per profesi masih dominan, dampaknya bisa fatal bagi pasien dan mental nakes itu sendiri.
“Bayangkan jika setiap profesi bekerja terpisah tanpa koordinasi yang baik. Risiko miskomunikasi melonjak, potensi konflik antar-nakes tak terhindarkan, dan tindakan medis bisa terlambat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu burnout (kelelahan mental dan fisik),” jelasnya.
Kondisi burnout inilah yang membuat nakes merasa frustrasi, kurang dihargai, dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri atau pindah tempat kerja. Akibatnya, krisis kekurangan nakes di daerah akan terus berulang menjadi siklus yang sulit diputus.
Sebagai solusi konkret, Amanda mendorong penerapan pendekatan Interprofessional Education (IPE). Pendekatan ini merupakan proses pembelajaran dan praktik kolaboratif sejak masa pendidikan hingga implementasi di lapangan yang melibatkan perawat, dokter, apoteker, bidan, dan nakes lainnya.
Melalui IPE, setiap profesi dididik untuk:
Memahami peran dan tanggung jawab profesi lain.
Meningkatkan kualitas komunikasi dan koordinasi.
Membangun rasa saling menghargai.
Meminimalkan konflik horizontal antarprofesi.
“Jika kolaborasi berjalan baik, beban kerja yang berat akan terasa lebih ringan karena tanggung jawab dibagi secara proporsional. Nakes tidak lagi merasa berjuang sendirian,” tambah Amanda.
Di akhir wawancara, Amanda menegaskan bahwa penerapan strategi IPE ini tidak hanya mendongkrak kualitas pelayanan kepada pasien, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi fasilitas kesehatan dalam menjaga loyalitas pekerjanya.
“Membangun tim yang solid adalah investasi. Tenaga kesehatan yang merasa didukung dan dihargai akan jauh lebih loyal, produktif, serta memiliki komitmen kuat untuk bertahan mengabdi,” pungkasnya.















