SIDIKPOLISINEWS.ID ACEH BARAT- Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Aceh Barat diduga mengutip uang beli bangku per siswa baru mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per siswa baru, sebagai syarat untuk bisa sekolah di madrasah favorit yang ada di Meulaboh, Aceh Barat.
Informasi yang diterima wartawan, modus kutipan tersebut diduga dilakukan melalui salah satu pengurus komite madrasah yang disebut berinisial S alias AR.
Kepala MAN 1 Aceh Barat, Faisal, saat diwawancarai di sebuah warung kopi di Meulaboh, Senin (25/5/2026) secara tegas membantah bahwa pihak madrasah maupun komite madrasah sama sekali tidak terlibat dan tidak melakukan pungutan apa pun.
“Perlu digarisbawahi, proses menerima siswa baru itu sudah selesai. Tidak ada satu orang pun yang kami olah nilainya. Siapa pun dia, mereka bisa lihat sendiri kelulusannya, dan siswa langsung tahu lulus atau tidak saat pengumuman satu bulan lalu,” ujar Faisal.
Menurutnya, polemik ini bermula dari tingginya antusiasme masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya di madrasah tersebut, sementara kuota daya tampung yang dimiliki sekolah sangat terbatas.
Akibatnya, sejumlah orang tua siswa yang anaknya tidak lulus berinisiatif berkumpul dan menghubungi pihak komite agar anak-anak mereka tetap bisa diakomodasi.
Melihat keterbatasan ruang kelas, kumpulan orang tua siswa tersebut kemudian memohon agar anak mereka dapat diterima dengan komitmen bahwa mereka siap mencari donatur secara mandiri—baik ke pihak perusahaan (PT) maupun mengumpulkan dana swadaya—untuk membangun ruang kelas baru.
”Ada beberapa wali siswa berkumpul, menghubungi komite agar anaknya bisa sekolah. Kami sampaikan kondisi madrasah sangat, sangat terbatas. Namun, mereka memohon dan bersedia mencari donatur sendiri untuk membangun gedung baru agar anak mereka bisa sekolah di sini.
“Saya katakan, kalau itu niat bapak/ibu yang sangat mulia silakan, tapi jangan libatkan warga madrasah maupun komite. Cukup sampai di situ saja,” tegasnya.
Faisal juga mengaku tidak mengetahui sama sekali rincian jumlah dana yang dikumpulkan, siapa saja yang memungut, ataupun teknis pembangunan yang direncanakan oleh paguyuban orang tua tersebut.
Sementara itu, anggota Komite MAN 1 Aceh Barat, Suandi alias Abu Rangkileh membantah tidak terlibat dalam informasi kutipan tersebut.
“Baiknya hubungi ketua komite saja, saya bukan ketua, saya cuma anggota,” katanya dengan gugup.















