Sidikpolisinews, Tangerang – Rabu, 7 Mei 2025
Puskesmas Sukadiri melakukan inspeksi mendadak ke salah satu wilayah di Desa Gintung menyusul laporan terkait dugaan penyebaran penyakit yang disebut warga sebagai “virus tikus”. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons cepat atas kekhawatiran masyarakat terhadap meningkatnya kasus penyakit dengan gejala menyerupai demam berdarah dengue (DBD).
Namun di balik aksi cepat tersebut, muncul keluhan dari warga yang menilai penanganan yang dilakukan belum menyentuh akar persoalan.
Salah seorang warga RT 07 RW 02, yang enggan disebutkan namanya, menjelaskan bahwa istilah “virus tikus” hanyalah ungkapan spontan yang terlontar saat Kepala Desa Gintung meninjau warganya yang tengah sakit.
“Sebetulnya kami hanya cerita soal gejala yang mirip DBD. Saat itu saya bilang ke Pak Lurah, ‘Tuh penyakitnya seperti kena virus tikus,’ sambil menunjuk anak saya yang sakit. Tapi intinya kami minta agar segera dilakukan fogging karena satu keluarga dan beberapa warga lain di Rt 07/02 sudah terinfeksi,” tuturnya.
Namun, ia mengeluhkan rumitnya prosedur untuk mendapatkan penanganan. “Kata Pak Lurah, saya nggak bisa langsung minta ke puskesmas. Harus ada surat hasil lab dulu, baru bisa ajukan fogging. Ribet, banyak aturan ini-itu,” imbuhnya.
Seorang warga lainnya menanggapi sinis respons cepat dari pihak puskesmas. Menurutnya, justru penyebutan “virus tikus” yang memicu perhatian lebih dari petugas.
“Ada bagusnya juga sih disebut virus tikus. Soalnya kalau cuma bilang DBD atau penyakit biasa, mana ada petugas puskesmas langsung datang ke warga. Jadi ya, biar mereka turun ke lapangan juga,” katanya dengan nada kesal.
Kekecewaan warga semakin memuncak saat seorang petugas puskesmas menyampaikan pernyataan yang dianggap menyinggung.
“Yang bikin saya sakit hati, ada petugas yang bilang, ‘Emang kalau udah di-fogging bisa sembuh?’ Itu jawaban yang menyakitkan. Kami bukan minta kesembuhan dari fogging, tapi tindakan nyata yang bisa mencegah penyebaran penyakit,” tegas seorang warga dengan nada geram.
Menanggapi polemik ini, pihak Puskesmas Sukadiri akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Mereka menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan adanya wabah virus baru atau penyakit yang disebut sebagai “virus tikus”. Gejala yang muncul masih diduga sebagai DBD , namun diperlukan hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.
Kasus ini menyoroti kesenjangan antara persepsi masyarakat dan mekanisme birokrasi pelayanan kesehatan di tingkat lokal. Di satu sisi, warga menginginkan tindakan cepat dan langsung. Di sisi lain, institusi kesehatan terikat pada prosedur dan standar operasional yang mensyaratkan verifikasi medis.
Ke depan, komunikasi yang terbuka dan responsif antara petugas kesehatan dan masyarakat menjadi kunci agar tidak terjadi kesalahpahaman maupun kekecewaan yang berlarut.
(Ijum Setiawan – Sidikpolisinews)















