Langkat, sidikpolisinews.id –
Kamis, 20 November 2025, Sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara, kearifan lokal dalam teknik penangkapan ikan tradisional terus menjadi warisan yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda. Salah satu bentuk kekayaan budaya tersebut terlihat dari penggunaan berbagai jenis alat tangkap ikan tradisional yang hingga kini masih digunakan oleh sebagian masyarakat, khususnya di daerah pesisir dan perairan sungai.
Salah satu ciri khas dalam kearifan lokal ini adalah penerapan metode penangkapan yang ramah lingkungan, tidak merusak ekosistem, serta selaras dengan budaya masyarakat setempat. Dalam beberapa daerah, masyarakat masih menggunakan alat tangkap tradisional yang disebut injab, yaitu pintu atau sistem perangkap yang dibuat di jalur air atau sungai. Dalam penerapannya, injab dapat memiliki satu hingga dua pintu. Pada bagian belakang injab, masyarakat menambahkan tempurung kelapa berukuran besar sebagai pelengkap perangkap yang berfungsi menahan hasil tangkapan agar tidak keluar kembali.
Selain injab, terdapat berbagai jenis perangkap ikan tradisional lainnya yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan jenis tangkapan. Salah satunya adalah bubu, alat tangkap yang terbuat dari bambu atau rotan dengan bentuk menyerupai tabung atau kerucut. Bubu memiliki berbagai nama dan model berdasarkan ukuran, struktur, dan penggunaannya. Sebutannya pun berbeda-beda menurut suku dan daerah.
Beberapa jenis bubu yang dikenal masyarakat antara lain:
Bubu Royam, berukuran besar dan digunakan untuk menangkap ikan di aliran sungai atau rawa.
Tuar, dikenal di beberapa daerah sebagai alat tangkap yang lebih sederhana namun efektif.
Pengilar, sebutan lain dari bubu dengan bentuk dan fungsi serupa, tergantung dialek setempat.
Bubu Jangak, memiliki model yang lebih panjang dan berfungsi menangkap ikan berukuran sedang.
Bubu Belat, umumnya digunakan di daerah perairan dangkal dan dibuat dengan pola dinding rapat.
Bubu Madang, salah satu jenis bubu yang populer di kalangan masyarakat pesisir.
Bubu Madang Ketam, tipe khusus yang dirancang untuk menangkap kepiting atau ketam.
Selain fungsi utamanya sebagai alat menangkap ikan, bubu dan injab juga memiliki nilai seni tradisional. Proses pembuatannya membutuhkan keterampilan khusus, ketelitian, serta pemahaman mendalam terhadap karakter air dan lingkungan.
Keberadaan ragam alat tangkap ikan tradisional ini bukan hanya menjadi bukti kecerdasan leluhur dalam beradaptasi dengan alam, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara budaya dan lingkungan. Upaya pelestarian, dokumentasi, serta edukasi tentang penggunaan injab dan berbagai jenis bubu diharapkan mampu menjaga warisan ini agar tetap lestari dan dikenal luas, baik sebagai sumber ilmu maupun identitas budaya masyarakat lokal.
Dengan demikian, kearifan lokal dalam alat penangkap ikan tradisional bukan hanya sekadar metode, tetapi juga warisan seni dan budaya yang bernilai tinggi, pantas dilestarikan dari generasi ke generasi.
= Man Syah =















