KNPI: Dari Lokomotif Perubahan ke Gerbong Pesanan Oligarki.
Opini: Muhammad fakri
Sidikpolisinews.id.Kabupaten Halmahera Selatan, kamis, 14 Agustus 2025|Dulu, nama Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) terpatri dalam ingatan publik sebagai garda depan gerakan pemuda. Ia adalah wadah yang menggabungkan berbagai organisasi, menjadi suara kritis, dan mendorong agenda-agenda progresif demi perubahan sosial dan politik. KNPI bukan sekadar organisasi; ia adalah simbol perlawanan terhadap stagnasi dan penindasan.
Namun, roda sejarah bergerak. Hari ini, wajah KNPI jauh dari semangat awalnya. Organisasi yang seharusnya menjadi lokomotif perubahan kini justru terlihat seperti gerbong tambahan yang mengikuti jalur rel pesanan oligarki. Keputusan dan gerakannya lebih sering selaras dengan kepentingan elite ekonomi-politik ketimbang aspirasi rakyat muda yang diwakilinya.
Pergeseran ini bukan kebetulan. Politik transaksional telah merasuk hingga ke tubuh organisasi pemuda. Jabatan dalam KNPI menjadi rebutan, bukan karena visi perubahan, melainkan karena posisi itu bisa menjadi tiket masuk ke lingkar kekuasaan. Alih-alih memperjuangkan nasib buruh muda, petani, nelayan, dan pelajar, energi KNPI habis untuk drama internal, kongres berlarut-larut, dan saling klaim legitimasi.
Oligarki memahami satu hal: mengendalikan masa depan berarti mengendalikan pemuda. Dan KNPI, dengan jaringan luasnya, adalah sasaran empuk. Dana, fasilitas, dan jabatan dijadikan alat jinak. Hasilnya? Organisasi yang dulu berteriak lantang kini lebih sering berfoto bersama pejabat, mengeluarkan pernyataan normatif, dan menghindari sikap kritis yang bisa “mengganggu kenyamanan” para patron.
Kita, generasi muda, harus berani menyatakan bahwa ini adalah kemunduran moral dan politik. KNPI tidak boleh hanya menjadi papan nama yang dipakai untuk melegitimasi agenda penguasa. Jika ia ingin kembali menjadi lokomotif perubahan, maka harus ada keberanian untuk memutus ketergantungan pada uang dan kekuasaan oligarki.
Sejarah akan mencatat: pemuda yang tunduk pada oligarki hanyalah penumpang di gerbong terakhir, tanpa arah dan tanpa tujuan. Dan KNPI, jika terus begini, akan dikenang bukan sebagai penggerak bangsa, melainkan sebagai contoh bagaimana idealisme bisa dibeli dengan harga yang memalukan.
Merdeka…….yang ke 80.. semoga bangsa menjadi lebih kuat dan bermartabat.
Kabiro Halmahera Selatan
Muhammad fakri.















