Harga BBM Eceran di Yahukimo Melonjak Drastis, HIPMI Desak Penerbitan Perda untuk Lindungi Ekonomi Masyarakat

Dekai, Sidikpolisinews.id. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran di wilayah Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, dilaporkan mengalami lonjakan yang sangat drastis dalam tiga hari terakhir. Harga BBM di tingkat pengecer terpantau melambung tinggi hingga mencapai kisaran Rp50.000 sampai Rp100.000 per liter.

Merespons jeritan masyarakat dan pelaku usaha mikro tersebut, Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Yahukimo bergerak cepat melakukan penelusuran guna mengidentifikasi akar masalah kelangkaan yang memicu lonjakan harga ini.

Kendala Transportasi Sungai dan Faktor Cuaca

Ketua HIPMI Kabupaten Yahukimo, Ali Giban, S.Sos., langsung menggelar koordinasi dengan pihak pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang beroperasi di Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Kamis (2/7/2026).

Usai pertemuan yang berlangsung di kawasan Paradiso, perwakilan manajemen SPBU Yahukimo, Ismael, memberikan klarifikasi mengenai tersendatnya pasokan BBM ke wilayah tersebut. Menurut Ismael, kendala utama yang dihadapi saat ini adalah faktor cuaca ekstrem yang memengaruhi jalur transportasi air, serta terbatasnya armada kapal pengangkut.

“Kendala utamanya karena faktor cuaca. Saat ini, kapal yang beroperasi untuk mengangkut pasokan BBM ke Yahukimo hanya tersisa satu unit. Sementara satu kapal lainnya masih dalam proses perbaikan di Timika,” ungkap Ismael dalam keterangannya kepada HIPMI, Kamis (2/7).

Ismael menambahkan bahwa jalur transportasi sungai menuju Dekai sangat bergantung pada debit air. “Kendala kedua adalah masalah alam. Terkadang sungai mengering (surut), sehingga kami harus menunggu hujan turun agar volume air naik kembali. Hal inilah yang membuat kapal pengangkut tidak bisa masuk dengan cepat ke Dekai,” jelasnya.

280 Ton Pasokan BBM Tertahan di Suator

Untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif, Ketua HIPMI Yahukimo juga melakukan koordinasi lanjutan dengan Koordinator Lapangan SPBU Kabupaten Yahukimo, Deky Rumpaison.

Deky membenarkan adanya keterlambatan distribusi akibat kendala geografis tersebut. Ia memaparkan bahwa sebenarnya kuota pasokan BBM untuk Kabupaten Yahukimo pada bulan ini tergolong aman, yakni sebanyak 280 ton yang diperuntukkan bagi dua SPBU di Dekai.

“Pasokan yang masuk bulan ini totalnya 280 ton untuk memenuhi kebutuhan dua SPBU, yaitu SPBU Paradiso yang melayani kendaraan roda empat (mobil) dan SPBU Pasar Baru yang melayani kendaraan roda dua (motor). Namun, kapal pengangkut saat ini masih tertahan karena cuaca kering dan air sungai surut,” urai Deky.

Lebih lanjut, Deky menjelaskan posisi armada pengangkut saat ini sedang bersandar di daerah Suator. “Kapal sekarang posisi ada di Suator. Ketika air sungai naik, kapal baru akan melanjutkan pelayaran ke Yahukimo dengan waktu tempuh kurang lebih 3 hari. Tetapi, jika dalam perjalanan air kembali surut, maka kapal terpaksa harus berhenti lagi menunggu air naik,” tambahnya.

Melihat kondisi tersebut, HIPMI menilai perlu adanya kebijakan alternatif yang cepat dan taktis dari pihak-pihak terkait agar kedua kapal pengangkut dapat segera beroperasi bersama di Yahukimo. Jika hanya mengandalkan satu kapal, keterlambatan pasokan BBM dipastikan akan terus berulang.

HIPMI Usulkan Mendorong Perda Harga Eceran

Mengantisipasi dampak domino dari lonjakan harga BBM eceran yang tidak terkontrol ini, Ketua HIPMI Yahukimo Ali Giban menegaskan, pemerintah daerah bersama legislatif harus segera mengambil langkah proteksi hukum melalui regulasi yang ketat.

HIPMI secara resmi mengusulkan dan mendorong perlunya pembentukan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur secara khusus mengenai batas atas harga penjualan BBM di tingkat eceran.

“Perda ini sangat mendesak agar para pengecer menjual BBM sesuai dengan aturan dan koridor hukum yang jelas. Jika regulasi ini tidak segera diterbitkan, pihak-pihak tertentu akan terus memanfaatkan situasi kelangkaan dengan menjual BBM sesuka hati mereka,” tegas Ali Giban.

Ali mengingatkan, jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya kontrol harga, maka masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang akan menjadi korban paling terdampak.

“Masyarakat kecil akan semakin terjerit. Lonjakan harga BBM eceran ini taruhannya besar, karena berpotensi memicu kenaikan harga barang pokok dan sektor lainnya di Kabupaten Yahukimo. Oleh karena itu, regulasi dan kebijakan alternatif transportasi harus segera dihadirkan,” pungkas Ketua HIPMI Yahukimo tersebut.

Pewarta: Marinus Heluka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *