Gunung Botak Minta Tumbal Penjara: Permainan Klaim Ganda dan Aliran Dana Misterius

Www SidikPolisi News’id -Namlea Kabupaten Buru’ Propinsi Maluku’ (4/5/206)
Editorial Redaksi
Gunung Botak kembali berasap, bukan oleh mesin dompeng atau dentuman batu yang dipecah, melainkan oleh bara persoalan yang lama dipendam dan kini menyala terang di ruang-ruang resmi. Bola panas yang digulirkan Helena Ismail dalam rapat dengar pendapat 28 April 2026 itu bukan sekadar pernyataan—ia adalah pemantik yang membuka lapisan demi lapisan praktik kusut di balik kilau emas.

Fakta bahwa ada pihak yang mengaku sebagai ahli waris dan menerima aliran dana dari lebih dari satu investor untuk objek yang sama adalah ironi yang menampar logika. Gunung Botak, yang selama ini menjadi ladang harapan sekaligus kuburan bagi banyak orang kecil, kini memperlihatkan wajah lain: arena permainan ganda yang melibatkan klaim, uang, dan kekuasaan. Pernyataan Andi Bohar dari PT LCBTK menjadi penegas bahwa praktik ini bukan rumor liar, melainkan realitas yang telah berjalan.

Selama bertahun-tahun, tumbal di Gunung Botak identik dengan nyawa. Ratusan orang telah menjadi korban, terperangkap antara kebutuhan hidup dan sistem yang tak pernah benar-benar melindungi mereka. Mereka yang jatuh bukan saja karena longsor atau racun merkuri, tetapi juga karena ketidakadilan yang membiarkan mereka bekerja di wilayah abu-abu hukum.

Namun kini, tumbal itu bergeser. Bukan lagi semata tubuh yang dikubur diam-diam, tetapi kemungkinan nama-nama yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan hukum. Jika benar ada pihak yang menerima dana dari lebih dari satu investor untuk satu objek yang sama, maka ini bukan sekadar pelanggaran etik—ini adalah pintu masuk bagi konsekuensi pidana.

Selama ini, yang terseret ke penjara adalah mereka di lapisan bawah: penambang kecil, pembeli emas, pemilik tong dan peti. Mereka menjadi wajah yang mudah ditunjuk, mudah ditangkap, dan mudah dilupakan. Sementara itu, aktor-aktor yang bermain di tingkat klaim lahan dan aliran investasi kerap berada di luar jangkauan.

Kini situasinya berpotensi berubah. Jika bola panas ini terus bergulir dan tidak dipadamkan oleh kompromi, maka bukan tidak mungkin tumbal berikutnya adalah mereka yang selama ini berdiri di balik layar—yang mengatur, menerima, dan membagi keuntungan dari satu objek yang sama kepada lebih dari satu pihak.

Gunung Botak sekali lagi mengajarkan bahwa emas tidak pernah benar-benar berkilau tanpa bayangan. Dan kali ini, bayangan itu mulai bergerak menuju arah yang selama ini jarang disentuh: pertanggungjawaban mereka yang bermain di atas penderitaan banyak orang.

(“AHB”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *