GMPRI Soroti Akses Jalan Kayeli-Batabual Lumpuh, Warga Kabupaten Buru Menjerit

Www SidikPolisi News’id -Namlea Kabupaten Buru’ Propinsi Maluku’ (23/5/2026)
Ketua Bidang kaderisasi DPC GMPRI Buru. Aldi Salmon angkat bicara persoalan infrastruktur jalan di Kabupaten Buru, Maluku, kembali menjadi sorotan tajam. Akses jalan yang menghubungkan wilayah Kecamatan Kayeli dan Kecamatan Batabual dilaporkan dalam kondisi rusak parah hingga nyaris lumpuh total. Kondisi ini memicu keluhan berat dari masyarakat setempat yang merasa dianaktirikan dalam hal pembangunan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, jalur lintas Kayeli-Batabual kini dipenuhi kubangan lumpur dalam, material batu yang berserakan, serta titik-titik longsor yang mengancam keselamatan pengendara. Pada musim penghujan, jalur ini berubah menjadi kubangan raksasa yang mustahil dilewati oleh kendaraan roda empat, bahkan kendaraan roda dua sekalipun harus bertaruh nyawa untuk melintas.

Dampak Ekonomi dan Kesehatan yang Memprihatinkan
Lumpuhnya akses jalan darat ini berdampak langsung pada urat nadi perekonomian dan pelayanan dasar masyarakat.

Lonjakan Harga Pokok
Distribusi barang dari pusat kota Namlea menuju Batabual terhambat. Akibatnya, harga bahan pokok meroket tajam karena biaya logistik yang membengkak.

Krisis Layanan Kesehatan
Warga yang sakit atau ibu hamil yang hendak melahirkan terpaksa dievakuasi menggunakan jalur laut dengan ketinting (perahu motor kecil). Opsi ini sangat berisiko, terutama saat gelombang tinggi melanda perairan Buru.

Aktivitas Pendidikan Terganggu
Guru dan siswa yang harus melintasi antar-kecamatan seringkali terlambat atau bahkan gagal bersekolah akibat kondisi jalan yang tidak aman.

Masyarakat Tagih Janji Pemerintah Daerah
masyarakat batabual dan kayeli menyatakan kekecewaannya yang mendalam terhadap Pemerintah Daerah Kabupaten Buru dan Pemerintah Provinsi Maluku. Menurut masyarakat, janji-janji politik untuk perbaikan jalan Kayeli-Batabual selalu digaungkan setiap musim pemilu, namun realisasinya nihil.

Kami seperti terisolasi di tanah sendiri. Jalan ini adalah satu-satunya urat nadi kami. Kalau terus dibiarkan seperti ini, bagaimana ekonomi kami bisa maju? Kami meminta Penjabat Bupati Buru dan dinas terkait untuk tidak menutup mata,
kecewa. Masyarakat mendesak adanya langkah konkret, minimal berupa penanganan darurat atau pengerasan jalan di titik-titik terparah, sebelum anggaran pemeliharaan berkala atau peningkatan jalan secara permanen dapat dialokasikan.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Buru belum memberikan keterangan resmi terkait rencana penanganan jalur maut Kayeli-Batabual tersebut. Warga berharap, jeritan mereka kali ini benar-benar didengar dan ditindaklanjuti oleh pemangku kebijakan.
(“AHB”)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *