SIDIKPOLISINEWS.ID MEULABOH – Dalam upaya nyata mendukung program pemerintah untuk percepatan penurunan angka stunting serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Prodi Kebidanan Meulaboh Poltekkes Kemenkes Aceh menggelar kegiatan edukatif di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.
Kegiatan yang mengusung tema “Peningkatan Kapasitas Konselor dalam Meningkatkan Pengetahuan Calon Pengantin sebagai Upaya Kehamilan Sehat untuk Mencegah Stunting” ini melibatkan para konselor, penyuluh agama, petugas pendamping calon pengantin (catin), tenaga kesehatan, serta dihadiri langsung oleh 30 peserta calon pengantin.
Rangkaian kegiatan ini diawali dengan pelatihan media edukasi bagi para konselor KUA yang dipandu oleh Nasrullah, S.Kom pada Senin (6/4/2026). Pelatihan ini bertujuan agar para konselor dapat memanfaatkan media informasi secara optimal dan modern saat memberikan bimbingan.
Puncak acara bimbingan dan penguatan kapasitas dilaksanakan pada Rabu (8/4/2026). Dalam sambutannya, Kepala KUA Johan Pahlawan menegaskan bahwa calon pengantin merupakan kelompok sasaran yang sangat krusial dalam memutus mata rantai stunting.
“Persiapan kesehatan yang matang sebelum memasuki jenjang pernikahan dan kehamilan akan berkontribusi besar lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Peningkatan kapasitas konselor ini adalah langkah yang sangat relevan agar edukasi yang disampaikan ke masyarakat benar-benar tepat sasaran,” ujarnya.
Hadir sebagai pemateri utama, Bdn. Rina Julianti, SST, M.Keb dan Ns. Arpina Fajarina, S.Kep, M.Kep. Keduanya mengupas tuntas berbagai materi penting, di antaranya:
Konsep dasar dan faktor risiko stunting.
Pentingnya kesehatan reproduksi pada masa prakonsepsi.
Pemenuhan gizi seimbang bagi catin dan pencegahan anemia.
Pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah (pre-marital screening).
Peran keluarga dalam mendukung kehamilan yang sehat.
Tidak hanya dibekali teori medis, para konselor juga dilatih mengenai teknik komunikasi efektif, metode konseling kesehatan reproduksi, serta strategi edukasi dalam bimbingan perkawinan.
Suasana kegiatan hidup dan interaktif melalui metode diskusi kelompok, bedah studi kasus, hingga simulasi konseling langsung kepada calon pengantin. Para peserta tampak antusias, saling berbagi pengalaman, dan aktif berdiskusi mengenai kendala bimbingan di lapangan.
Ketua Tim PkM, Bdn. Rina Julianti, SST, M.Keb, menekankan bahwa penanganan stunting harus digeser ke hulu, yaitu sebelum pernikahan terjadi.
“Pencegahan stunting tidak bisa dimulai saat anak sudah lahir, melainkan harus diintervensi sejak masa prakonsepsi. Catin harus punya bekal pengetahuan yang matang soal gizi dan reproduksi. Melalui penguatan kapasitas konselor KUA ini, kita berharap pesan-pesan kesehatan tersebut tersampaikan lebih efektif dan humanis,” jelas Rina.
Hasil evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pemahaman peserta mengenai konsep kehamilan sehat. Para konselor kini memiliki keterampilan tambahan untuk memberikan layanan edukasi yang lebih optimal dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Melalui program PkM ini, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kokoh antara institusi pendidikan tinggi kesehatan, KUA, dan sektor kesehatan di daerah. Keluaran jangka panjangnya adalah lahirnya keluarga-keluarga baru di Aceh Barat yang siap hamil sehat demi melahirkan generasi emas yang bebas stunting.
Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi bersama, penyerahan media edukasi secara simbolis kepada pihak KUA Johan Pahlawan, dan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen kolektif mewujudkan masyarakat Aceh yang lebih sehat.
Penulis/udinjazz















