Ada Apa dengan Porprov 2026? Ketua Laskar Merah Putih Bangka Soroti Keputusan Pengurangan Cabor yang Dinilai Sepihak

 

Bangka —Sidikpolisi.news

Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Bangka Belitung Tahun 2026 kembali menuai sorotan. Setelah PB Porprov menetapkan hanya 18 cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan dari 26 cabor yang semula direncanakan, berbagai pihak mulai mempertanyakan dasar keputusan tersebut.

Salah satu suara keras datang dari Ketua Laskar Merah Putih (LMP) Markas Cabang Kabupaten Bangka, Ari Sofyan, yang akrab disapa Mang Udin. Ia menilai keputusan yang diambil oleh panitia dan pihak terkait terkesan terburu-buru dan dipaksakan dengan alasan keterbatasan dana.

“Ada apa dengan Porprov 2026 ini? Dari 26 cabor yang direncanakan, kini tinggal 18 yang dipertandingkan. Alasan karena dana terdengar klasik dan terkesan hanya dijadikan pembenaran. Keputusan ini seperti dipaksakan,” ujar Ari Sofyan, Sabtu (18/10/2025).

Menurutnya, keputusan tersebut juga menunjukkan minimnya transparansi dari pihak penyelenggara. Ia menilai proses pengambilan keputusan dilakukan tanpa melibatkan sepenuhnya KONI Kabupaten/Kota, sehingga banyak cabor yang belum sempat mendaftar atau melakukan evaluasi akhir.

“KONI di kabupaten dan kota tidak diberi waktu yang cukup untuk mengevaluasi dan mendaftarkan cabang olahraga. Ini keputusan yang tidak transparan dan seolah sepihak,” tambahnya.

Usulkan Penundaan Porprov

Ari Sofyan menegaskan, apabila persoalan utama benar-benar terletak pada ketersediaan anggaran, maka lebih baik Porprov 2026 ditunda pelaksanaannya daripada menimbulkan keresahan di kalangan pelaku olahraga daerah.

“Lebih baik ditunda saja kalau memang anggarannya belum siap. Jangan sampai hanya karena dana belum ada, cabang olahraga dikorbankan dan menimbulkan kegaduhan,” tegasnya.

Ia menilai, kebijakan ini justru berpotensi menurunkan semangat atlet dan pengurus cabor yang selama ini sudah melakukan persiapan menghadapi Porprov.

“Kami melihat ada keputusan sepihak yang tidak berpihak kepada pembinaan olahraga. Ini tentu mengecewakan,” lanjutnya.

Cabor yang Tidak Bisa Ikut

Ari Sofyan juga mencontohkan, salah satu cabor yang tidak bisa mengikuti Porprov 2026 akibat kebijakan tersebut adalah tenis meja (pingpong) — salah satu cabang olahraga yang memiliki banyak peminat dan telah aktif melakukan pembinaan di tingkat kabupaten.

“Cabor seperti tenis meja seharusnya tetap diberi kesempatan. Mereka punya atlet, punya pembinaan, dan punya potensi prestasi. Jangan dikesampingkan hanya karena alasan dana,” ujarnya.

Seruan untuk Evaluasi dan Keterbukaan

Ketua LMP Bangka itu berharap PB Porprov dan KONI Provinsi segera melakukan evaluasi menyeluruh dan membuka kembali komunikasi dengan KONI di daerah. Ia menekankan bahwa semangat Porprov bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga menjadi ajang pemersatu dan pembinaan olahraga daerah.

“Porprov seharusnya menjadi pesta olahraga yang inklusif dan membangkitkan semangat persaudaraan antardaerah, bukan malah menimbulkan kekecewaan. Semua pihak harus duduk bersama dan mencari solusi terbaik,” pungkas Mang Udin.
(Eddy Martin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *