Sidikpolisinews.id – Kalimantan Tengah.
Malam itu, ruang interogasi terasa sangat dingin. Di balik meja, Inspektur Danu (nama samaran) menatap lekat seorang pemuda ringkih berinisial Eren (nama samaran) umur 20 tahun yang duduk menunduk. Di atas meja, terbujur barang bukti yang tidak biasa untuk kasus pencurian: sebuah tas ransel murah, tiga buah buku tulis, dan sebotol minyak wangi.
“Kenapa kamu mencuri ini, Eren? Kalau kamu butuh uang untuk foya-foya atau narkoba, barangnya bukan ini,” tanya Danu dengan suara berat namun tenang.
Eren meremas jemarinya yang gemetar. Air matanya luruh, membasahi lantai semen. “Adik saya, Pak… Besok hari pertama dia masuk SMP. Dia tidak punya tas, tidak punya buku. Dia bilang takut dihina teman-temannya dan ingin putus sekolah saja.”
Eren bercerita bahwa sejak orang tua mereka meninggal setahun lalu, ia bekerja serabutan sebagai kuli panggul. Namun, tiga hari terakhir pasar sepi, dan ia sama sekali tidak memegang uang. Rasa putus asa melihat adiknya menangis di sudut kamar membuatnya nekat masuk ke sebuah toko grosir dan menyembunyikan barang-barang itu di balik jaketnya.
“Minyak wangi itu… untuk apa?” tanya Danu lagi, suaranya melunak.
“Baju seragam adik saya itu seragam bekas pemberian tetangga, Pak. Sudah kusam dan baunya apek walau sudah dicuci. Saya hanya ingin dia wangi dan percaya diri di sekolah barunya,” bisik Eren terisak.
Danu terdiam. Sebagai penegak hukum, ia tahu aturan tetaplah aturan. Namun sebagai seorang ayah dan manusia, hatinya bergetar hebat. Ia bangkit dari kursinya, berjalan keluar ruang interogasi, dan menelepon pemilik toko grosir. Menggunakan uang dari dompetnya sendiri, Danu membayar seluruh kerugian toko tersebut dan meminta pemilik toko untuk mencabut laporannya demi kemanusiaan. Beruntung, sang pemilik toko tersentuh dan bersedia memaafkan.
Satu jam kemudian, Danu kembali ke ruangan dengan membawa sebuah kantong plastik besar tambahan. Di dalamnya ada seragam sekolah baru, sepatu, dan alat tulis yang jauh lebih layak.
“Kasusmu ditutup secara damai. Kamu bebas,” kata Danu sambil meletakkan kantong itu di depan Eren. “Tapi ingat, ini pertama dan terakhir kalinya kamu mengambil milik orang lain. Jaga adikmu dengan cara yang terhormat.”
Eren terperangah. Ia langsung bersujud di kaki Danu, menangis sejadi-jadinya sambil mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Malam itu, Eren pulang tidak sebagai seorang kriminal, melainkan sebagai seorang kakak yang membawa harapan baru untuk masa depan adiknya, berkat hati nurani seorang polisi.
Catatan :
Herdie A
(Wartawan Provinsi Kalimantan Tengah)


















