SidikPolisiNesw.id, Lampung Tengah – Peternak ayam petelur di Lampung menghadapi tekanan akibat harga telur yang belum stabil, sementara biaya produksi terutama pakan dan obat-obatan terus mengalami kenaikan.
Saat ini, harga telur ayam di tingkat posko peternak Lampung berada di angka Rp22.500 per kilogram. Angka tersebut memang mengalami kenaikan sekitar Rp500 dibanding titik terendah sebelumnya yang sempat menyentuh Rp22.000 per kilogram, namun para peternak menilai harga tersebut masih belum ideal untuk menopang keberlangsungan usaha.
Panggih Pangestu, salah satu peternak ayam petelur di Kampung Tanggulangin, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, mengatakan penurunan harga telur mulai dirasakan sejak pertengahan Juni 2026 atau menjelang awal bulan Muharam.
Menurut Panggih, salah satu faktor yang diduga memengaruhi penurunan harga adalah berkurangnya penyerapan pasar. Ia juga menyebut sempat terjadi kendala pada mitra penyerapan atau MBG (mitra yang menyerap hasil produksi telur), sehingga turut berdampak terhadap pergerakan harga di tingkat peternak.
“Penyebab pastinya kurang tahu, tapi sepertinya karena penyerapan kurang. Kemarin juga sempat ada kendala penutupan di MBG (mitra penyerap). Padahal dulu, sebelum ada sistem itu, harga cenderung lebih stabil,” ujar Panggih, Selasa (14/7/2026).
Meski aktivitas sekolah mulai kembali berjalan yang biasanya dapat meningkatkan permintaan bahan pangan, Panggih mengaku belum melihat adanya tanda-tanda kenaikan harga telur secara signifikan.
Menurut dia, kondisi pasar saat ini membuat peternak harus berhati-hati dalam mempertahankan produksi. Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) telur yang berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram, keuntungan peternak masih harus dipotong berbagai biaya lain, seperti perawatan ayam, tenaga kerja, penyusutan kandang, serta risiko produksi.
Di sisi lain, kenaikan harga pakan menjadi beban utama yang semakin menekan usaha peternak. Panggih menyebut harga pakan ayam pabrikan di tingkat toko saat ini berada di kisaran Rp365.000 hingga Rp370.000 per sak.
Padahal, beberapa bulan sebelumnya harga pakan masih berada di kisaran Rp320.000-an per sak.
“Ini yang bikin dilema. Saat harga telur turun, harga pakan justru terus naik. Begitu juga dengan harga obat-obatan ayam yang ikut mengalami kenaikan,” kata Panggih.
Untuk mengurangi beban biaya produksi, Panggih terpaksa mengurangi jumlah ayam produksi dan mengosongkan salah satu kandangnya.
Sebelumnya, dua kandang miliknya mampu menampung sekitar 1.200 ekor ayam. Namun, saat ini ia hanya mengoperasikan satu kandang dengan populasi sekitar 600 ekor ayam.
Pengurangan populasi tersebut berdampak pada jumlah produksi telur harian.
Saat ini, produksi turun menjadi sekitar 30 kilogram telur per hari dengan kebutuhan pakan lebih dari dua sak atau sekitar 140 kilogram setiap harinya.
Terkait wacana pemerintah mengenai harga acuan telur yang berada di kisaran Rp24.000 hingga Rp26.500 per kilogram, Panggih menyebut kebijakan tersebut belum dirasakan penerapannya secara langsung oleh peternak di tingkat bawah.
“Kami berharap pemerintah dapat segera turun tangan, tidak hanya menstabilkan harga jual telur di kisaran ideal sekitar Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram, tetapi juga mengendalikan harga pakan agar kembali lebih terjangkau. Dengan begitu, usaha peternak mandiri tetap bisa berjalan,” tutup Panggih.
(SidikPolisiNesw.id / Harry Irawan)


















