Ketika Pemimpin Turun ke Tanah Lapang: H. Yus Derahman Bangun Ikatan Sosial Lewat Kurban Presiden

MENTOK, BANGKA BARAT —Sidikpolisinews.id
Riuh suara anak-anak pecah di halaman Masjid Darul Abror, Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Rabu pagi (27/05/2026). Mereka berlarian mendekati seekor sapi limosin raksasa berwarna cokelat tua yang baru saja turun dari mobil pengangkut.
“Besak nian sapinyo!” teriak seorang bocah sambil menunjuk tubuh sapi yang hampir memenuhi bak kendaraan.
Warga desa pun spontan berkerumun.

Sebagian mengangkat telepon genggam untuk merekam. Sebagian lain hanya tersenyum sambil memandangi sapi bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang bobotnya nyaris mencapai satu ton itu.
Nama sapi itu cepat menyebar dari mulut ke mulut warga dengan nama “Si Boy”.
Namun pagi itu, yang datang ke Desa Air Lintang bukan sekadar seekor sapi kurban jumbo.

Di tengah suasana mendung yang menggantung di langit Tempilang, masyarakat justru merasakan sesuatu yang lebih hangat tentang kehadiran pemerintah yang terasa dekat dengan rakyat desa.
Di tengah keramaian itulah, Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, tampak berdiri membaur bersama warga.

ΥTidak ada pagar protokoler yang terlalu ketat. Tidak ada jarak berlebihan antara pejabat dan masyarakat.
Yus berjalan di antara warga, menyalami tokoh masyarakat, berbincang dengan panitia kurban, bahkan beberapa kali tersenyum melihat anak-anak yang terus mengintip tubuh besar Si Boy dari dekat.
“Bantuan ini bukan hanya tentang hewan kurban. Ini tentang kebersamaan dan perhatian kepada masyarakat,” kata Yus Derahman dalam sambutannya.

Kalimat itu sederhana.
Tetapi di kampung kecil seperti Air Lintang, ucapan itu terasa hidup.
Sejak pagi buta, halaman Masjid Darul Abror sudah dipenuhi masyarakat.
Para ibu membawa dulang makanan untuk tradisi nganggung. Kaum bapak duduk bercengkerama di bawah tenda sederhana. Anak-anak mondar-mandir penasaran menunggu kedatangan sapi kurban Presiden.

Kehadiran Si Boy seolah mengubah pagi desa menjadi ruang perayaan sosial.
Warga yang biasanya sibuk dengan pekerjaan harian mendadak berkumpul di satu tempat. Suasana kampung terasa hidup.
Di sela kerumunan itu, Yus Derahman memilih tidak berdiri jauh dari masyarakat.

Ia duduk bersama warga. Mendengarkan cerita masyarakat desa. Sesekali tertawa kecil ketika warga membandingkan ukuran Si Boy dengan kerbau.
“Kalau beginilah pemimpin datang ke kampung, masyarakat senang. Terasa dekat,” ujar Hasan, warga Air Lintang.

Bagi masyarakat desa, kehadiran pemimpin sering kali jauh lebih penting dibanding seremoni besar.
Yus tampaknya memahami hal itu.
Ia tidak datang hanya untuk menyerahkan bantuan simbolis. Ia hadir membangun suasana emosional bahwa pemerintah masih melihat desa sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

Di tengah banyaknya narasi pembangunan fisik dan investasi, Yus Derahman justru tampil dengan pendekatan berbeda.
Ia membangun citra kepemimpinan melalui ruang sosial masyarakat.
Melalui tradisi nganggung.
Melalui duduk bersama warga.
Melalui cara ia hadir tanpa sekat yang terlalu formal.
“Semoga bantuan ini membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat,” ujar Yus.

Namun bagi masyarakat Air Lintang, keberkahan pagi itu bukan hanya berasal dari pembagian daging kurban.
Melainkan dari rasa diperhatikan.
Sebab di banyak desa pesisir, masyarakat sering merasa jauh dari pusat kekuasaan. Kehadiran pejabat kadang hanya terasa saat agenda formal pemerintahan berlangsung.
Tetapi pagi itu berbeda.

Yus Derahman datang bukan membawa pidato panjang tentang proyek pembangunan.
Ia datang membawa simbol perhatian sosial.
Itu terasa lebih membumi.
Tubuh besar Si Boy memang menjadi pusat perhatian sepanjang pagi.

Anak-anak terus berdiri di dekat kandang darurat. Beberapa warga bergantian berfoto. Bahkan ada yang rela datang dari desa tetangga hanya untuk melihat langsung sapi bantuan Presiden itu.
Namun di balik keramaian tersebut, ada pesan sosial yang lebih besar.
Bahwa pembangunan tidak selalu harus hadir dalam bentuk gedung megah atau proyek miliaran rupiah.

Kadang pembangunan hadir lewat kebersamaan.
Lewat ruang sosial yang membuat masyarakat merasa tidak sendiri.
Yus Derahman tampaknya sadar betul tentang hal itu.
Karena itu, ia juga menekankan bahwa Idul Adha harus menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial masyarakat Bangka Barat.

“Gotong royong dan kepedulian sosial harus tetap hidup di tengah masyarakat kita,” katanya.
Ia menyebut, selain bantuan sapi Presiden, Bangka Barat tahun ini juga menerima bantuan hewan kurban dari perusahaan dan berbagai pihak swasta.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa semangat berbagi di tengah masyarakat masih terjaga.
“Ini bentuk kepedulian bersama untuk masyarakat,” ujarnya.

Di tengah dinamika politik daerah yang sering dipenuhi pencitraan formal, pendekatan Yus Derahman di Air Lintang terlihat berbeda.
Ia membangun personal branding bukan dari panggung besar.
Melainkan dari kedekatan sosial.
Dari cara ia hadir di tengah masyarakat desa.
Dari kesediaannya duduk bersama warga tanpa jarak.
Dari cara ia memanfaatkan momentum bantuan sapi Presiden menjadi ruang memperkuat hubungan emosional antara pemerintah dan rakyat.

Pemandangan itu terlihat jelas di halaman Masjid Darul Abror pagi itu.
Anak-anak tersenyum sambil menunjuk Si Boy.
Warga duduk santai menikmati nganggung.
Tokoh agama berbincang hangat dengan aparat pemerintah.

Sementara Yus Derahman berdiri di tengah keramaian, menyapa masyarakat satu per satu.
“Pemimpin itu harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat ada kepentingan politik,” kata seorang tokoh masyarakat di sela kegiatan.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi justru di situlah makna pagi di Air Lintang terasa kuat.
Bahwa di tengah kehidupan masyarakat desa yang penuh keterbatasan, perhatian kecil bisa menjadi sesuatu yang sangat besar.

Di Tempilang pagi itu, perhatian itu hadir dalam bentuk seekor sapi limosin bernama Si Boy, serta seorang wakil bupati yang mencoba menjaga kehangatan hubungan antara pemerintah dan masyarakatnya.

(Srikandi ,Belva dan tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *