Www SidikPolisi News’id Namlea “Kabupaten Buru’” (30/11/2025)
Aliansi Masyarakat Adat Bupolo bersama KNPI Buru akan menggelar aksi besar besok 1 Desember 2025, menolak rencana penertiban atau “penyisiran” tambang Gunung Botak oleh Pemerintah Provinsi Maluku. Aksi ini diperkirakan melibatkan lebih dari 5.000 peserta dan menjadi titik kulminasi dari penolakan yang selama ini disuarakan masyarakat adat dan kelompok penambang rakyat.
Ketua KNPI Kab.buru Taher Fua menyampaikan, rencana penyisiran dianggap mengabaikan hak-hak masyarakat adat serta berpotensi menimbulkan konflik sosial di kawasan Gunung Botak. Pihaknya menuntut pemerintah daerah meninjau kembali kebijakan tersebut dan melakukan komunikasi yang jelas sebelum melanjutkan penertiban.
Lima Tuntutan Massa Aksi
Aliansi Masyarakat Adat Bupolo dan KNPI Buru akan menyampaikan lima tuntutan resmi:
1. Menolak rencana penyisiran tambang Gunung Botak oleh Pemerintah Provinsi Maluku.
2. Mendesak Bupati Buru dan Gubernur Maluku meninjau, mempertimbangkan, dan meralat rencana penyisiran di areal tambang Gunung Botak dan sekitarnya.
3. Mendesak Kodim 1506 dan Polres Buru berkoordinasi dengan pimpinan TNI/Polri (Kodam XVI Pattimura dan Polda Maluku) agar mempertimbangkan kembali rencana penertiban dan tidak menurunkan personel.
4. Mendesak DPRD Buru menyatakan sikap menolak penyisiran hingga kelengkapan administrasi koperasi pengelola Gunung Botak rampung 100 persen.
5. Mendesak Kodim 1506/Namlea dan Polres Buru menempatkan posko keamanan di jalur D, Kali Anhoni, dan Tanah Merah untuk memantau aktivitas masyarakat.
Taher Fua menegaskan bahwa gerakan penolakan akan terus diperluas jika pemerintah tetap memaksakan rencana penertiban.
Rute dan Peserta Aksi
Aksi besok titik kumpulnya di Lapangan Pattimura Namlea. Massa diperkirakan tiba melalui tiga jalur utama, yaitu jalan lintas dari Unit 18, ponton, dan spit boat dari Kayeli. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk tukang ojek, pedagang, sopir truk, sopir angkutan, pengusaha kodok-kodok dan kijang, serta kelompok masyarakat lainnya.
Persiapan dilakukan secara tertib oleh jaringan masyarakat adat dan penambang rakyat untuk memastikan aksi berlangsung aman.
*(“Besugi, A H”)*















