DR. Muhammad Husein Maruapey Mengimbau Basudara Tulehu dan Tial Agar Tenang dan Tidak Terprovokasi: “Utamakan Prinsip Laeng Lia Laeng”
HAL-SEL // SidikPolisi News. – Dalam suasana yang tengah memanas dan berpotensi menimbulkan konflik sosial di wilayah Tulehu dan Tial, DR. Muhammad Husein Maruapey, salah satu putra terbaik dari Desa Mowae, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Provinsi Maluku, menyampaikan imbauan yang penuh makna kepada seluruh masyarakat di kedua negeri tersebut 1/5/2025
Sebagai seorang akademisi, tokoh masyarakat, dan figur yang dihormati di Maluku, DR. Husein Maruapey menyerukan kepada seluruh basudara Tulehu dan Tial untuk tetap tenang, menahan diri, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang beredar—baik yang tersebar melalui media sosial, percakapan publik, maupun informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Dalam pernyataan tertulisnya, DR. Husein Maruapey menekankan pentingnya menjunjung tinggi prinsip budaya orang Maluku, yaitu “Laeng Lia Laeng”—sebuah filosofi luhur yang mengandung arti “saling menjaga satu sama lain” atau “saudara menjaga saudara”. Prinsip ini, kata beliau, bukan sekadar ungkapan tradisional, melainkan menjadi jati diri dan fondasi utama dalam membangun keharmonisan hidup masyarakat Maluku yang majemuk.
“Saya mengajak semua pihak, khususnya basudara di Tulehu dan Tial, untuk menahan emosi dan mengedepankan dialog. Jangan sampai kita terpancing oleh kepentingan-kepentingan luar yang ingin merusak tatanan kehidupan yang selama ini telah kita jaga bersama. Ingat, laeng lia laeng adalah warisan nenek moyang kita yang tidak boleh kita nodai,” ujar DR. Husein Maruapey.
Beliau juga mengingatkan bahwa tindakan kekerasan atau balas dendam tidak akan membawa solusi yang hakiki. Sebaliknya, hal tersebut justru akan memperpanjang siklus luka dan penderitaan antar saudara. Oleh karena itu, peran tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan semua elemen masyarakat sangat diperlukan untuk menjadi penyejuk dan penengah dalam situasi seperti ini.
“Kita harus menaruh kepercayaan pada aparat keamanan dan proses hukum yang berlaku. Jika ada ketidakadilan, mari kita tempuh jalur yang benar. Maluku sudah cukup belajar dari masa lalu. Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan perpecahan,” tegasnya lagi.
DR. Husein Maruapey juga menyerukan kepada pemerintah daerah dan tokoh-tokoh pemuda setempat untuk segera mengambil langkah proaktif, termasuk mengadakan pertemuan damai, dialog lintas negeri, serta membangun komunikasi yang konstruktif antara warga Tulehu dan Tial. Ia percaya bahwa hanya dengan komunikasi terbuka dan hati yang lapang, perdamaian sejati dapat terwujud.
Selain itu, ia juga meminta kepada media massa dan para pengguna media sosial untuk lebih bijak dalam menyebarkan informasi. “Berita yang belum pasti kebenarannya bisa menjadi bahan bakar bagi konflik. Mari kita jaga ruang digital kita dari ujaran kebencian dan provokasi,” tambahnya.
Sebagai penutup, DR. Husein Maruapey kembali mengingatkan bahwa masyarakat Tulehu dan Tial adalah saudara sedarah, sedesa, dan sebudaya. Permasalahan, sebesar apa pun, dapat diselesaikan dengan hati dan pikiran yang tenang. Karena pada akhirnya, Maluku bukan hanya soal tanah dan wilayah, tetapi tentang manusia dan hubungan batin yang telah terjalin selama ratusan tahun.
“Beta percaya, basudara Tulehu dan Tial cukup bijak untuk memilih jalan damai. Mari torang buktikan bahwa orang Maluku mampu menjaga dirinya sendiri tanpa harus saling melukai. Salam damai untuk semua. Katong pung Maluku adalah negeri rukun, negeri yang diberkati,” tutup DR. Maruapey dengan penuh harap. ( LM. Tahapary )















