SidikPolisiNews.Id Aceh Singkil,1/6/2025.Bencana ekonomi kembali menyerang petani sawit di Aceh Singkil. Harga Tandan Buah Segar (TBS) yang menjadi tumpuan utama mata pencaharian masyarakat Aceh Singkil terus mengalami penurunan, hingga kini menyentuh harga Rp2.300 per kilogram di tingkat petani.
Sementara itu, harga kebutuhan pokok tak henti-hentinya merangkak naik, menambah berat beban hidup di tengah masyarakat petani sawit Diawaktu harga TBS naik juga belum sesuai di banding kan dengan harga Pupuk Apa lagi sekarang harga TBS setiap hari terus menurun
Kondisi ini menimbulkan keresahan yang mendalam di kalangan petani sawit di satu sisi, mereka harus terus bekerja di ladang demi mempertahankan kelangsungan hidup.
Di sisi lain, hasil jerih payah yang diperoleh justru tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya yang kian menekan semakin tinggi.
“Dulu, dengan harga segitu, kami masih bisa belanja cukup untuk keluarga. Sekarang, uang hasil panen TBS seperti tak ada artinya. Harga sembako naik terus . pupuk subsidi sangat langkah di dapatkan petani sawit KL pakai pupuk non subsidi sama sekali tidak sebanding dengan harga TBS kata petani sawit sebut saja MD
Kami benar-benar terjepit,” ujar salah satu petani di Aceh Singkil dengan nada lelah namun tetap penuh harapan agar pemerintah dapat memikirkan nasib masyarakat yang menjadi petani seperti kami ini.
Tak hanya harga bahan pokok yang kian melambung tinggi .pencuri sawit juga semakin meningkat.Selama ini tidak pernah begini sekalinya masyarakat kehilangan buah sawit .kami yakin ini semua karna paktir ekonomi .pekerjaan juga sangat sulit sementara kebutuhan hidup setiap hari di butuhkan ,darimana untuk menutupinya pungkas pak tani
apa lagi ketersediaan pupuk untuk sawit juga semakin sulit dijangkau. Kelangkaan ini memperparah kondisi kebun menurunkan produktivitas, dan tentu saja, mempersempit peluang petani untuk bangkit dari tekanan ekonomi yang kian menghimpit para petani
Di tengah keterpurukan ini, masyarakat berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat segera turun tangan memberikan solusi nyata. Mulai dari stabilisasi harga TBS, penyaluran pupuk subsidi yang merata dan terjangkau, hingga kebijakan strategis yang berpihak pada petani kecil sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Aceh Singkil, dengan potensi sawitnya yang besar, sejatinya bisa menjadi lumbung kemakmuran. Namun jika para petaninya terus bergulat dengan harga rendah dan biaya tinggi, maka impian itu akan kian jauh dari genggaman.
Kini, yang tersisa hanyalah harapan harapan akan datangnya angin perubahan yang mampu meniupkan kembali semangat hidup, dan membawa kembali kesejahteraan yang telah lama dinanti .namun entah sampai kapan karna masyarakat kecil selalu menerima makanan janji .yang tak kunjung datang Hanya membuat selalu lelah menanti dan sabar menanti entah apa yang di nanti .Dedi















