SDN 10 Mentok Buktikan Generasi Hebat Tidak Lahir dari Buku Saja

MENTOK, BANGKA BARAT – Sidikpolisinews.id
Di saat banyak sekolah fokus mengejar capaian akademik, SD Negeri 10 Mentok justru menghadirkan pendekatan yang berbeda.

Sekolah ini menggabungkan literasi, edukasi gizi, pendidikan karakter, hingga sejarah lokal dalam satu kegiatan besar bertajuk Gebyar Literasi Gemini (GLG).

Mengusung tema “Gerakan Makan Ikan Sejak Dini”, kegiatan yang akan digelar pada 10-11 Juni 2026 tersebut menjadi salah satu inovasi pendidikan yang menarik perhatian di Kabupaten Bangka Barat.
Sabtu 5 juni 2026

Bagi SDN 10 Mentok, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan anak membaca buku.
Anak-anak juga harus belajar memahami kehidupan, mengenali budayanya, menjaga kesehatan dan memahami sejarah daerah tempat mereka tumbuh.

Kepala SDN 10 Mentok, Wanda Setiawan, M.Pd, mengatakan literasi harus dimaknai lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca dan menulis.
“Literasi adalah kemampuan memahami dunia, mengenali jati diri, dan membangun masa depan yang lebih baik. Karena itu kami mengintegrasikan budaya membaca dengan edukasi gizi melalui gerakan gemar makan ikan,” kata Wanda.
Menurutnya, generasi unggul tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik.
Kesehatan dan karakter juga menjadi faktor penting.

“Anak-anak harus tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, sehat secara fisik, dan kuat secara karakter. Literasi dan kesehatan adalah fondasi utama untuk menciptakangenerasi unggul,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan akan dimulai dengan Senam Gemari (Gemar Makan Ikan) yang melibatkan seluruh siswa, guru, orang tua dan tamu undangan.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah ingin menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Tak hanya itu, siswa juga akan mengikuti berbagai aktivitas literasi seperti pembacaan puisi, kampanye kreatif gemar makan ikan, hingga berbagai penampilan edukatif lainnya.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk melatih keberanian berbicara di depan umum sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi.
Hari kedua kegiatan akan diisi berbagai perlombaan yang melibatkan siswa.
Mulai dari lomba mewarnai, fashion show, lomba kreasi, presentasi, hingga sejumlah perlombaan edukatif lainnya.

Ketua Panitia Gebyar Literasi Gemini, Donni, S.Pd, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar siswa belajar melalui pengalaman langsung.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya menerima teori. Mereka harus terlibat aktif, berkreasi, tampil dan merasakan sendiri proses belajar yang menyenangkan,” ujarnya.

Menurut Donni, pendekatan seperti ini membuat nilai-nilai pendidikan lebih mudah dipahami dan diingat oleh peserta didik.
Salah satu agenda yang diprediksi menjadi pusat perhatian pada Pameran Foto Warisan Bangka bertema ‘Bercerita Kisah dan Jejak Bangka’.

Pameran ini akan menghadirkan berbagai dokumentasi sejarah Bangka tempo dulu yang telah direstorasi dan dikurasi kembali.
Melalui foto-foto tersebut, siswa akan diajak mengenal kehidupan masyarakat Bangka pada masa lalu.

Mulai dari dunia pendidikan, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, hingga berbagai warisan budaya yang menjadi identitas daerah.
“Anak-anak akan melihat bagaimana masyarakat Bangka dahulu hidup, bekerja, dan berjuang membangun daerahnya. Ini menjadi cara yang menarik untuk mengenalkan sejarah lokal,” kata Donni.

Menurutnya, sejarah tidak boleh hanya menjadi hafalan dalam buku pelajaran.
Sejarah harus menjadi pengalaman belajar yang mampu membangun kesadaran dan rasa memiliki terhadap daerah.
Mengusung slogan “Jejak Masa Lalu, Inspirasi Masa Depan”, kegiatan ini mengajak siswa memahami bahwa masa depan tidak dapat dibangun tanpa mengenal akar sejarahnya.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media digital, SDN 10 Mentok ingin memastikan peserta didiknya tetap mengenal identitas daerahnya sendiri.
“Kami ingin anak-anak bangga menjadi bagian dari Bangka. Mereka harus mengenal sejarahnya, menghargai perjuangan generasi terdahulu dan memahami bahwa masa depan daerah ini ada di tangan mereka,” ujar Wanda.

Sebagai penutup, seluruh peserta akan menikmati berbagai hidangan berbahan dasar ikan.
Mulai dari ikan bakar bumbu, ikan bakar kecap, hingga pepes ikan yang disiapkan bersama warga sekolah dan paguyuban orang tua.

Bagi SDN 10 Mentok, momen tersebut bukan sekadar makan bersama.
Kegiatan itu menjadi bagian dari kampanye nyata untuk meningkatkan konsumsi ikan sebagai sumber protein yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan bisa hadir dalam banyak cara. Melalui buku, melalui makanan sehat, melalui budaya, bahkan melalui sejarah daerah kita sendiri,” kata Wanda.

Lebih dari sekadar acara sekolah, Gebyar Literasi Gemini menjadi bukti bahwa pendidikan yang baik tidak hanya mengisi kepala anak dengan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter, kesehatan, dan kecintaan terhadap daerahnya.
Dari sebuah sekolah dasar di Mentok, sebuah pesan sederhana sedang disampaikan generasi hebat tidak lahir hanya dari ruang kelas, tetapi dari pendidikan yang mampu menyentuh seluruh aspek kehidupan anak.

(Srikandi,Belva dan tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *