Surabaya, Sidikpolisinew.id – Setiap menjelang bulan Ramadhan, masyarakat Jawa memiliki tradisi khas yang di sebut ‘Megengan’, giat ini dilaksanakan di Jemur Wonosari RW 03, Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo pada Minggu (15/02/2026).
Tradisi megengan ini bukan sekedar acara berkumpul dan makan bersama, melainkan sebuah warisan budaya hasil perpaduan nilai nilai Jawa dan ajaran Islam yang syarat dengan makna spiritual.
Secara etimologis, kata Megengan berasal dari kata ‘Megeng’ yang berarti menahan, makna ini sejalan dengan inti ibadah puasa, yaitu menahan hawa nafsu serta mengendalikan diri. Tradisi Megengan diyakini sudah ada sejak masa penyebaran Islam oleh Wali Songo, terutama kala itu pada era Kerajaan Demak. Waktu itu para Wali menyisipkan ajaran Islam melalui budaya lokal, sehingga mudah di terima masyarakat.

Meskipun zaman sudah berkembang, tradisi ini masih dilestarikan, terutama di pedesaan dan di kota, pelaksanaanya mungkin lebih sederhana , namun esensi utamanya sama.
Dalam rangka menyucikan diri dan bersiap menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Muhaimin bersama masyarakat Jemur Wonosari Islam menggelar kegiatan “Megengan”. Acara ini berlangsung khidmat meskipun di tempat terbuka.
Anggota DPRD kota Surabaya Muhaimin,SH,MM, dalam sambutannya menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur.
“Kegiatan Megengan ini merupakan wujud syukur sekaligus doa kita bersama, memohon kepada Allah SWT agar kita semua dapat dipertemukan dengan bulan suci Ramadan yang sudah berada di depan mata,” ujar Muhaimin.

Lebih lanjut, Cak Imin panggilan akrabnya mengingatkan bahwa kesempatan bertemu dengan bulan Ramadan adalah nikmat yang luar biasa, mengingat banyak saudara seiman yang tidak sempat menjumpai Ramadan tahun ini karena telah lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Ia juga menjelaskan bahwa Megengan memiliki dimensi budaya yang kuat. Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi menyambut Ramadan ini mungkin memiliki penyebutan yang berbeda-beda, namun memiliki konsep dan esensi yang sama, yaitu menggelar doa bersama.
“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, kita semua dapat melestarikan tradisi yang baik serta memberikan spirit atau semangat baru bagi kita dalam menyongsong bulan suci,” tambahnya.
Rangkaian acara Megengan tersebut kemudian dipungkasi dengan pembacaan tawasul dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Bapak Sumali sebagai Mudin setempat, guna memohon keberkahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa mendatang.
Megengan megengan menjadi bukti bahwa budaya Jawa dan Islam dapat berjalan berdampingan secara harmonis, dalam tradisi ini tidak hanya memperkuat ikatan sosial masyarakat, tetapi juga meneguhkan persiapan batin untuk menyambut bulan penuh berkah.(haryo)















