Sidikpolisinews.id ACEH BARAT – Koordinator Daerah 1 BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), Alwi Alfandi, melayangkan ultimatum terbuka kepada aparat kepolisian terkait maraknya aksi balap liar yang kembali menghantui wilayah Aceh Barat selama bulan suci Ramadhan.
Alwi menegaskan bahwa fenomena tahunan ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan publik yang gagal diredam secara permanen. Menurutnya, berulangnya kejadian di lokasi dan waktu yang sama setiap tahun memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai efektivitas pengawasan aparat.
“Balap liar terjadi hampir setiap Ramadhan. Jika pola dan lokasinya terus berulang, lalu di mana langkah pencegahan aparat? Jangan sampai masyarakat menilai ada pembiaran yang disengaja,” tegas Alwi dalam keterangan resminya, Sabtu (28/2/2026).
Soroti Keamanan Jalan Raya dan Kepercayaan Publik
BEM SI Daerah 1 menilai bahwa jaminan keamanan di jalan raya adalah mandat negara yang harus dijalankan oleh aparat penegak hukum. Ketidakhadiran negara dalam memberikan rasa aman saat masyarakat menjalankan ibadah Ramadhan dianggap sebagai pertaruhan besar bagi kredibilitas kepolisian.
4 Poin Tuntutan Tegas BEM SI Daerah 1:
Sebagai bentuk tanggung jawab moral mahasiswa, Alwi menyampaikan empat tuntutan utama sebagai berikut:
Evaluasi Internal Terbuka: Mendesak Kapolres Aceh Barat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan di wilayah-wilayah rawan balap liar.
Peningkatan Patroli Preventif: Menuntut pengawasan aktif dan patroli intensif secara konsisten, bukan sekadar penindakan reaktif setelah video kejadian viral di media sosial.
Transparansi Akuntabilitas: Meminta kepolisian membuka data penindakan kepada publik sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kinerja di lapangan.
Kawal Lewat Audiensi: BEM SI siap mendorong forum audiensi resmi dan evaluasi yang lebih luas jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat.
Ramadhan Harus Suci dari Aksi Berbahaya
Alwi menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa ketenangan bulan Ramadhan tidak boleh dikotori oleh aksi yang mengancam nyawa. Ia menegaskan bahwa mahasiswa akan terus berdiri di sisi masyarakat untuk memastikan hukum ditegakkan tanpa kompromi.
“Ramadhan adalah bulan suci. Tidak pantas jalanan kita berubah menjadi arena yang mengancam nyawa. Jika aparat tidak serius, kami akan bergerak lebih jauh untuk menuntut perubahan,” pungkasnya.
Editor/udinjazz















