Sidikpolisinews.idMEULABOH – Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang seharusnya menjadi angin segar bagi warga kurang mampu di Kabupaten Aceh Barat, justru menyisakan pilu. Sebanyak tiga unit rumah bantuan di Gampong Gampa, Kecamatan Johan Pahlawan, dilaporkan telantar dalam kondisi terbengkalai, meninggalkan pemiliknya dalam ketidakpastian.
Salah satu penerima bantuan, Nurmawati, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap proses pembangunan rumahnya yang bersumber dari anggaran Provinsi Aceh tahun 2025 tersebut. Ia mengaku sempat dimintai uang sebesar Rp4 juta oleh oknum pemborong dengan dalih kelancaran pembangunan.

Malangnya, setelah rumah lamanya dibongkar total demi pembangunan baru, pengerjaan justru mandek. Akibatnya, Nurmawati kini harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyewa rumah orang lain.
”Rumah lama sudah dibongkar, tapi yang baru tidak selesai. Saya terpaksa sewa rumah orang karena tidak ada tempat tinggal lagi,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Kondisi serupa dialami oleh Yusri dan Budiman. Di lokasi rumah bantuan milik Budiman, terlihat tumpukan semen sebanyak 6 sak yang kini telah mengeras dan membatu karena dibiarkan terpapar cuaca tanpa ada kelanjutan pengerjaan.

Warga menilai Pemerintah Provinsi Aceh dan dinas terkait seolah “tutup mata” terhadap nasib mereka. Pengawasan lapangan dianggap lemah karena proyek ditinggalkan begitu saja tanpa ada kejelasan kapan akan dilanjutkan.
Saat mencoba melakukan konfirmasi kepada pihak Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) melalui anggota kantor bernama Pak Mudasir, didapatkan jawaban yang mengejutkan. Melalui pesan WhatsApp, pihak Perkim menyatakan bahwa pembangunan RTLH yang bersumber dari dana kabupaten telah diselesaikan sepenuhnya.
”Sumber dana kabupaten untuk pembangunan RTLH semuanya sudah diselesaikan 100%. Maaf, yang saudara maksudkan di lokasi mana dan atas nama penerima siapa?” balas pihak Perkim saat dikonfirmasi.
Perbedaan data di atas kertas dengan fakta di lapangan ini memicu desakan agar Pemerintah Provinsi Aceh segera turun langsung ke Gampong Gampa. Warga berharap ada tindakan tegas terhadap oknum pemborong yang meminta uang kepada penerima bantuan dan meminta pertanggungjawaban atas terbengkalainya material bangunan.
Hingga berita ini diturunkan, ketiga pemilik rumah bantuan tersebut masih menunggu kepastian nasib tempat tinggal mereka yang kini hanya berupa reruntuhan dan fondasi yang tak kunjung berdinding.
Pewarta/udinjazz















