KOTA BARU (Kalsel), Sidikpolisinews.id – Di sebuah rumah sederhana, di dapur kecil yang lantainya sudah lapuk dan ditambal seadanya, seorang ibu duduk di lantai kayu yang mulai rapuh. Tangannya yang mulai menua tetap cekatan mengaduk tepung, melapisi potongan ayam sebelum digoreng. Asap tipis mengepul dari wajan yang mulai panas, mengiringi perjuangannya. Setelah ayam matang, ia segera membungkusnya dengan nasi, menyiapkan dagangan yang menjadi satu-satunya harapan keluarga.
Di kamar lain yang juga sederhana, sang suami, ayah dari Yudistira Mahardika, duduk diam sambil makan seadanya. Tubuhnya tampak lemah, menahan sakit yang seharusnya sudah ditangani oleh dokter. Namun, biaya pengobatan kini hanya menjadi angan, tak lagi bisa dijangkau akibat kondisi ekonomi keluarga yang semakin terpuruk.
Kehidupan keluarga ini berubah drastis sejak Yudistira dipecat sebagai ASN Lapas Kelas II A Kotabaru. Keputusan itu tak hanya menghancurkan masa depan Yudistira, tetapi juga mengguncang kehidupan orang-orang yang bergantung padanya. Istri, dua anaknya yang masih kecil, serta kedua orang tuanya, kini harus bertahan hidup hanya dari hasil jualan nasi ibunya.
Sang ibu, dengan suara bergetar, mengungkapkan kesedihannya. “Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Dia tidak bersalah. Saya sebagai seorang ibu tahu bagaimana anak saya. Saya hanya ingin dia mendapatkan haknya kembali,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Setiap hari, ia harus bangun lebih awal, mempersiapkan dagangannya dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup. “Sebelumnya tidak seberat ini, karena Yudistira masih bisa membantu. Tapi setelah dia dipecat, semuanya berubah. Sekarang saya yang harus berperan,” tuturnya lirih.
Perjuangan Yudistira untuk mendapatkan kembali haknya tak ia lakukan sendirian. Organisasi Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) dan tim Basa Rekan yang dipimpin Badrul Ain Sanusi Al-Afif, S.H., M.H. telah mendampinginya hingga ke Jakarta. Sekretaris DPD ARUN Kalsel, M. Hafidz Halim, S.H. Menyatakan bahwa keluarga Yudistira kini benar-benar dalam keterpurukan. “Ekonomi mereka sekarang hanya bertumpu pada jualan nasi ibunya. Seorang ibu yang mengetahui anaknya tidak bersalah pasti mengharapkan kebenaran, kepastian hukum, dan keadilan bisa ditegakkan,” ujarnya.















