Surabaya, Sidikpolisinews.id – Beberapa Tokoh kota Surabaya melakukan press Conference di Hedon Estate Cafe jalan Ngagel 24 Surabaya, Selasa (06/01/2026), “Melihat dinamika yang berkembang di kota Surabaya berawal dari Nenek Erlina yang di seret seret oleh anggota ormas Madas sedareh, hal ini menggugah rasa emosional dari para warga Surabaya juga netizen se Indonesia di medsos” ucap Heru.
Menyikapi ormas yang memakai nama daerah atau suku ini di anggap kuno, kembali lagi ke jaman sebelum Indonesia merdeka yang gampang di pecah belah oleh penjajah, “Sekarang tidak ada lagi suku suku kalau bicara kesukuan itu ketika sebelum terjadi Sumpah Pemuda 1928 , semenjak itu tidak ada lagi kesukuan yang ada sekarang itu warga negara Indonesia semua itu untuk menjaga kesatuan dan persatuan warga negara Indonesi” tegas Heru. Tetapi sangat ironis kalau hal ini di jadikan nama ormas salah satu nya Madas (Madura Asli) hal ini mesti harus di seleksi oleh Bakesbang.
Salah satu tokoh yang di lahirkan di Surabaya drg David awalnya tertarik dengan konten konten Yang ada di Viral For Justice sehingga ia menyampaikan ikut terlibat, awal drg David tertarik dalam hal ini “tapi saya rasa semua yang ada disini pernah merasakan ketidak enakkan dalam pelayanan parkir, banyak sekali jukir yang bertindak sebagai preman, contoh orang yang meminta dengan memaksa itu adalah preman” ucap David. Dalam hal ini berkali kali di suarakan tapi pemerintah kota tidak mau menanggapi persoalan ini.
David mengungkapkan serta mengkritisi tata kelola pemerintahan kota dalam mengelola lahan parkir yang jukir nya berlindung di bawah PJS, di duga terjadi adanya penyelewengan cukup besar terjadi kebocoran di situ, ada indikasi bahwa Pemkot terafiliasi dengan salah satu ormas dalam pengelolaan lahan parkir.
David merasa terpanggil bukan karena kepentingan politik juga popularitas, melainkan kerena ada keresahan yang dirasakan semua hampir semua warga kota Surabaya. Ia juga menyoroti fakta bahwa potensi pendapatan parkir kota bisa mencapai ratusan miliar rupiah per tahun, namun yang masuk ke kas daerah dinilai sesuai di lapangan dan sangat minim.
Ia menduga alur setoran parkir tidak berhenti pada juru parkir, melainkan mengalir ke pihak pengelola dalam hal ini ada organisasi tertentu, sehingga menguap sebelum masuk ke kas pemerintah kota.
Beberapa waktu terakhir memasuki fase yang semakin sensitif, emosional. Ketegangan sosial masyarakat menguat seiring langkah ormas Madas yang melaporkan wakil walikota Surabaya serta sejumlah warga ke jalur hukum Polda Jatim. Situasi ini memantik kegelisahan di tengah masyarakat dan memunculkan kekhawatiran akan rusak nya kondusifitas di kota Surabaya kota Pahlawan ini.
Empat tokoh perwakilan warga Surabaya secara terbuka menyampaikan reaksi cukup keras, namun terukur. Mereka menilai langkah hukum yang ditempuh oleh Madas tidak hanya berimplikasi hukum semata, tetapi bergeser menjadi persoalan harga diri dan martabat warga Surabaya.
“Surabaya hari ini tidak dalam sedang baik baik saja, emosi publik sudah terakumulasi, bukan karena kebencian tetapi karena rasa memiliki terhadap kota ini” ucap Heru dengan nada tegas sebagai salah satu warga kota Surabaya.
Pernyataan sikap bersama dari para tokoh tersebut menyampaikan himbauan sangat tegas terbuka kepada Madas Sedarah memberikan waktu untuk mencabut laporannya dua kali dalam 24 jam ke Polda Jatim terhadap wawali kota Surabaya maupun terhadap warga Surabaya yang telah dituding merusak atribut organisasi.
Himbauan keras tersebut sebagai ruang kompromi terakhir demi menjaga stabilitas kota Surabaya, namun para tokoh menegaskan bahwa kesabaran warga Surabaya ada batasnya.
“Dua kali dalam 24 jam itu sudah lebih dari cukup, Arek Arek Surabaya sebetulnya sudah cukup menahan diri” ujar nya.
Selain itu Heru ketua MAKI Jatim mengajak ‘Apel Siaga Arek Arek Surabaya di Balai Kota, jika himbauan juga tuntutannya tidak dipenuhi, warga siap menggelar apel siaga arek arek Surabaya kota dengan melibatkan ribuan massa. Apel siaga tersebut bukan untuk membuat kekacauan, melainkan sebagai penegasan kolektif, bahwa Surabaya adalah kota bersejarah yang tidak bisa diperlakukan sembarangan atau di atur oleh salah satu ormas.
“Surabaya adalah kota Pahlawan, kota ini bukan kota yang mudah diintervensi, bukan kota yang gampang dipecah belah, apalagi dipolitisasi” sambung nya.
Penyampaian Heru, apel siaga tersebut menjadi simbol persatuan warga kota Surabaya lintas latar belakang, sekaligus penegasan bahwa tidak ada ruang bagi upaya mengadu domba masyarakat.
Kasak kusuk warga menyoroti akar permasalahan yang dinilai telah bergeser jauh dari substansi awal. Penertiban parkir liar dan praktik premanisme, yang sejak lama dikeluhkan warga, justru berubah menjadi konflik politik dan hukum yang melibatkan ormas.
“Premanisme parkir itu nyata dan sudah lama terjadi, laporan masyarakat sudah berbulan-bulan tapi tidak di tangani secara serius. Begitu warga bergerak, justru warga yang disudutkan” ungkap Heru.
Disisi lain bahwa situasi ini dinilai sangat janggal, warga mempertanyakan, mengapa persoalan premanisme yang jelas jelas hukum justru berujung pada legitimasi terhadap pihak pihak tertentu, sementara warga yang bereaksi dianggap sebagai sumber masalah.
“Hal ini yang membuat kemarahan publik jadi membesar, masalah hukum berubah jadi drama politik” kata Heru.
Pernyataan tegas Heru mewakili warga menyuarakan tuntutan agar ormas Madas Sedarah di bubarkan, baik oleh pemerintah maupun melalui tekanan sosial dari masyarakat, apabila terus memperkeruh situasi Surabaya.
Salah satu tokoh Surabaya Rudi Gaol juga melontarkan kritik tajam kepada Pemerintah Kota Surabaya. Ia meminta agar pemerintah tidak terjebak pada narasi yang membalikkan fakta, seolah olah keresahan warga adalah sumber masalah.
“Kalau ada masalah di kota, tugas pemerintah adalah menyelesaikan, bukan membalikkan keadaan dan menyalahkan warganya sendiri” ujar Rudy.
Selain itu narasi yang menyudutkan warga Surabaya justru dinilai berpotensi memecah belah persatuan warga Surabaya.
Rudy juga menegaskan, Surabaya selama ini dikenal sebagai kota yang solid, egaliter, dan berani bersuara ketika keadilan terusik.
“Ini bukan soal siapa melawan siapa, ini persoalan Surabaya, jangan dijadikan kota ini sebagai Medan eksperimen kepentingan” Ucap Rudy.
Sebagai penutup press Conference Heru menegaskan kembali soal pelaporan Madas Sedarah kepada Wawali, bahwa dalam waktu dua kali 24 jam menjadi penentu, bagi warga Surabaya, langkah yang diambil bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk menjaga kehormatan dan kondusifitas kota yang kita semua mereka semua cintai, kita yang sejak awal berdiri di atas keberanian, persatuan, dan perlawanan terhadap ketidak Adilan bahkan tentara sekutu pun di lawan oleh Arek Arek Surabaya.(Haryo)


















