Pangkalpinang – Sidikpolisinews.id
Edi Irawan ST, seorang politisi muda dari Partai Demokrat yang menjabat sebagai Ketua Badan Riset dan Inovasi menyambangi RSUD Sjafrie Rachman Kab. Bangka di Desa Puding. Kedatangannya didasari tindak dugaan tidak diberikan pelayanan RSUD Sjafire Rahman yaitu permintaan menggunakan mobil ambulance.
Minggu 26 oktober 2025
Awalnya pihak Edi mengalami kecelakaan di Desa Puding bersama dengan warga Desa Puding. Kemudian, pihak Edi membawa ke RSUD Sjafrie Rachman yang tidak jauh dari tempat kejadian kecelakaan. Setelah diperiksa di RSUD Sjafrie Rachman, dokter HN menyarankan untuk melakukan rontgen. Namun ada hal yang aneh, dokternya memberi rekomendasi hanya secara lisan saja. Bila memang benar seperti itu lazimnya berikanlah rekomendasi tertulis untuk pasien agar dapat mengambil sikap lebih lanjut bila RSUD Sjafrie Rachman tidak memiliki peralatan rontgen.
Hal yang lebih membingunkan lagi, pihak Edi telah meminta bantuan untuk menggunakan fasilitas mobil ambulance yang dimiliki RSUD Sjafrie Rachman, namun ditolak.
“Kami meminta bantuan untuk menggunakan mobil ambulance milik Rumah Sakit (Sjafrie Rachman) tapi ditolak. Saya juga bilang, kalau harus sewa juga tidak apa-apa, biar kami bayar. Namun masih juga ditolak. Sudahlah tidak dikasih mobil ambulance,
rekomendasi tertulis untuk pasienpun tidak ada. Entah dimana ini empatinya” Jelas Edi dihadapan awak media.
Pada akhirnya karena tidak diberikan fasilitas tersebut, pihak pasien membawa sdr. Agus (22) menuju RSUD Depati Bahrin dengan menggunakan mobil pick up terbuka, milik warga setempat. Perjalan pasien di atas mobil bak dari Desa Puding menuju Sungailiat Kab. Bangka.
Korban mengalami cedera pada leher dan beberapa luka goresan kulit.
“Saya benar-benar heran, ternyata sekolah tinggi itu tidak cukup untuk menumbuhkan rasa empati. Itu nyawa seorang manusia. Hargailah penuh hikmah. Apa mungkin karena warga masyarakat biasa?
Jabatan itu tidak lama. Anggaplah orang lainpun seperti keluarga. Masak tega melihat orang mengalami kecelakaan, diangkut pakai mobil pick up seperti kardus ayam” ungkap gersang Edi pada awak media.
Dengan adanya kejadian ini pihak Edi akan kembali bersilahturahmi untuk meminta keterangan resmi kepada pihak RSUD Sjafrie Rachman yang dikepalai oleh dr. Meliasih sebagai direktur.
“Kami telah melayangkan pesan singkat kepada pihak RSUD Sjafrie Rachman. Intinya mohon terima silahturahmi kami dengan baik kemudian berikan keterangan perihal sikap RSUD berserta dengan dasar hukum dan salinan prosedural pelayanan Rumah Sakit. Bila tetap kekeh, kita akan laporkan dan tuntut persoalan ini” tandas Edi.
Edi yang dikenal politisi muda, aktivis keterbukaan informasi dan peneliti dalam bidang hidrologi. Pemuda kelahiran Pangkalpinang ini memiliki perhatian khusus kepada bidang kesehatan dan pendidikan. Berulang kali menggugat pemerintah dengan motif kecerdasan publik.
Edi menghibau kepada seluruh masyarakat, jangan pernah takut melaporkan pelayanan yang buruk.
“Jangan takut melaporkan pelayanan buruk pemerintah dan swasta. Jangan pernah takut mengumpulkan bukti. Jangan pernah takut berbicara karena semua itu dilindungi Undang-Undang. Dengan kontrol sosial dari publik pelayanan akan menjadi lebih baik” tegasnya.
Sampai berita ini diterbitkan, tim redaksi akan meminta konfirmasi kepada pihak RSUD Sjafrie Rachman, Puding Besar, Kab. Bangka.
(Srikandi Babel)















