Terkait Grand Opening Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Lurah Kendangsari Tiara Melati.S.IP, M.KP Sudah Siapkan Data Bumil dan Busui

oppo_2

 

Surabaya,Sidikpolisinew.id —  Saat ditemui beberapa media online Lurah Kendangsari menyampaikan gayung bersambut, artinya sudah persiapkan data sebelum grand opening SPPG Kendangsari, dalam ini tersimpan sebuah sistem kerja yang tidak hanya terencana, tetapi juga penuh kepedulian.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah ini tidak berjalan sendiri ia tumbuh dari kolaborasi erat antara dapur, sekolah, dan pemerintah kelurahan, membentuk rantai kepedulian yang saling terhubung.

Saat ini, fokus utama layanan masih menyasar anak-anak sekolah. Data penerima manfaat berasal dari lembaga pendidikan yang telah terverifikasi, seperti SD Kendangsari 1, SD Kendangsari 2, SD Al-Musrida, SD Iskandar Said, serta beberapa taman kanak-kanak di wilayah tersebut. Dari sinilah dapur SPPG mulai bekerja menyajikan makanan bergizi yang telah dihitung secara cermat oleh tenaga ahli gizi.

Namun di balik itu, harapan besar sudah disiapkan untuk kelompok yang tak kalah penting: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Data mereka telah dihimpun oleh pihak kelurahan sebagai bentuk kesiapsiagaan.

Begitu anggaran tersedia, program ini diharapkan bisa langsung menjangkau mereka, terutama ibu hamil dengan risiko tinggi yang sangat membutuhkan perhatian nutrisi lebih intensif.

Semua sudah dipersiapkan dengan matang. Setiap menu dirancang bukan sekadar mengenyangkan, tetapi benar-benar memenuhi kebutuhan gizi yang terukur.

Ada perhitungan, ada standar, dan ada tanggung jawab besar di setiap sajian yang diberikan.

Ke depan, pola distribusi juga akan diperkuat dengan sistem kolaboratif. Mengacu pada praktik yang sudah berjalan di wilayah lain seperti Panjang Jiwo, program ini nantinya akan melibatkan kader-kader masyarakat di tingkat RT.

oppo_2

Dengan begitu, penyaluran bantuan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih terasa kehadirannya di tengah warga.

Meski saat ini cakupan masih terbatas karena faktor anggaran yang belum sepenuhnya turun, semangat untuk terus berkembang tidak pernah surut. Pihak kelurahan telah menyiapkan seluruh data yang dibutuhkan, menunggu momentum agar program ini bisa menjangkau lebih luas dan lebih merata.

Harapannya sederhana, namun sangat bermakna: program ini bisa berjalan konsisten, berkelanjutan, dan benar-benar memberi dampak nyata.

Karena pada akhirnya, yang diperjuangkan bukan hanya angka penerima manfaat, tetapi kualitas hidup masyarakat itu sendiri.

Di sisi lain, dampak ekonomi juga mulai terasa. Sekitar 83% tenaga kerja di dapur SPPG berasal dari warga lokal. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa program ini mampu membuka peluang kerja, menambah penghasilan, dan perlahan menggerakkan roda perekonomian di lingkungan sekitar.

Dengan hadirnya SPPG Kendangsari, masyarakat tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga merasakan tumbuhnya harapan bahwa kehidupan yang lebih baik bukan sekadar impian, melainkan sesuatu yang sedang dibangun bersama, dari dapur kecil yang penuh makna.

Di sinilah MBG menemukan ruhnya: bukan hanya memberi makan, tetapi juga merawat masa depan. (haryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *