banner 728x250

Tradisi “Perlon Unggahan Anak Putu Bonokeling”

banner 120x600
banner 468x60

Sidikpolisinews.id
Banyumas 14 februari 2026

Latar Belakang & Sejarah
Dibalik Tradisi “Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling”.
Tersimpan Memori Yang Tak Lekang Oleh Waktu- Kisah Tanah Jawa.

banner 325x300

Tradisi yang masih terjaga. Masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Jatilawang Kabupaten Banyumas.
Mengenal Perlon Unggahan Masyarakat Adat Bonokeling di Pekuncen Jatilawang jelang Ramadan.
Masyarakat Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas kembali menggelar Tradisi Perlon Unggahan , yang pada tahun ini diselenggarakan mulai pada hari Kamis sampai dengan hari sabtu di tahun 2026, dan Acara puncaknya pada hari Jumat (13/2/2026).
Tradisi
Perlon “Unggahan” Anak Putu Banokeling :

Tgl 12 Februari 2026.
– Kedatangan Tamu ( Anak Putu Banokeling ) dari luar Pekuncen.
– Malem Neda ( Makan ) dilanjutkan doa bersama.
Tgl 13 Februari 2026
– Masak bersama
– Pisowanan eyang Banokeling
– Mbabar
Tgl 14 Februari 2026 pagi : Pelepasan Tamu ( Anak Putu Banokeling ) kembali ke daerah masing masing.

Tradisi tahunan yang dilaksanakan menjelang Ramadan ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari ritual “Perlon Unggahan” yang dalam Masyarakat Islam Di Nusantara juga melakukan Tradisi “Nyadran”/ Sadranan, yang biasa digelar pada Hari-hari terakhir bulan Ruwah (Syaban), upaya pensucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Dalam tradisi Masyarakat Islam Di Nusantara terutama di Wilayah Jawa : Nyadran berasal dari kata sraddha (Sanskerta) yang berarti keyakinan. Dalam tradisi Jawa, ia bermakna penghormatan kepada leluhur melalui doa dan sedekah.
Akulturasi: Pada masa Hindu-Buddha, Nyadran berupa upacara penghormatan arwah. Setelah Islam masuk, “Wali Sanga” memberi nuansa Islami: tahlil, doa, dan sedekah.
Waktu pelaksanaan: Nyadran dilakukan pada bulan Ruwah (Sya’ban), tepat menjelang Ramadan. Filosofinya: membersihkan diri lahir batin sebelum memasuki bulan suci.

Dalam pelaksanaannya, Anak Putu Bonokeling dari berbagai desa di wilayah Cilacap, seperti Kalikudi, Tambakreja, dan Adiraja, berjalan kaki menuju Pekuncen tanpa alas kaki. Prosesi ini melambangkan kesadaran manusia akan ketergantungannya kepada Tuhan.

Dalam pelaksanaannya, anak putu Bonokeling dari berbagai desa di wilayah Cilacap, seperti Kalikudi, Tambakreja, dan Adiraja, berjalan kaki menuju Pekuncen tanpa alas kaki. Prosesi ini melambangkan kesadaran manusia akan ketergantungannya kepada Tuhan.

Seluruh peserta wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Kaum perempuan memakai kemben dan selendang putih, sementara kaum laki-laki mengenakan busana serba hitam lengkap dengan kain jarit dan iket. Warna hitam menjadi ciri khas Banokeling yang dimaknai sebagai simbol kelanggengan tradisi.
Mengingatkan kefanaan hidup, memohon ampunan bagi leluhur, dan menyiapkan hati menyambut Ramadan.
Mempererat silaturahmi antar keluarga dan kerabat.
Melestarikan adat Jawa yang menekankan harmoni antara manusia, leluhur, dan alam. Mengajarkan gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan pada orang tua.

Rangkaian Acara “Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling” ataupun “Nyadran”, yang dilakukan oleh Masyarakat Islam Di Nusantara Menjelang Ramadan adalah hampir sama, diantaranya adalah : Bersih Makam Leluhur, mencabut rumput, mengecat nisan, merapikan lingkungan.
Yang menjadi Simbol bahwa sebelum Ramadan, hati dan lingkungan harus bersih. Kirab & Sedekah.
Warga membawa tenong berisi makanan atau hasil bumi.
Diarak menuju makam atau balai desa, lalu dibagikan, yang Melambangkan berbagi rezeki menjelang Ramadhan.

Prosesi “Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling”, Dipimpin oleh Kyai Kunci/Sesepuh Adat, dan jika di kegiatan “Nyadran/Sadranan” Masyarakat Islam Di Nusantara, Dipimpin oleh tokoh agama yang tujuannya adalah sama.
Bahwa “Perlon Unggahan Anak Putu Bonokeling”, maupun “Nyadran/Sadranan”, adalah penegasan akulturasi Islam dengan adat Jawa.
Adalah Simbol kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur.

Nilai Sosial & Budaya yang ditanamkan oleh para pendahulunya, baik di Kegiatan/Acara “Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling”, maupun kegiatan “Nyadran/Sadranan”, adalah untuk mempertemukan sanak saudara yang jarang bertemu, Sedekah & berbagi Makanan tidak hanya untuk keluarga sendiri, tetapi dibagikan ke semua.
“Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling”, ataupun “Nyadran/Sadranan”, yang masih Lestari sampai saat ini adalah, Sebagai bentuk kegiatan yang Harmonis, yang Menyatukan nilai Islam dengan adat Jawa, menjaga keseimbangan spiritual dan budaya.

Di Masa Kini,
“Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling”, ataupun “Nyadran/Sadranan”, tetap Lestari di Wilayah Kecamatan Jatilawang, ini juga menjadi budaya yang menarik wisatawan, tanpa kehilangan makna spiritualnya.
Tradisi ini mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga kebersihan hati, kebersamaan, dan penghormatan pada Leluhur.

Tradisi “Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling”, ataupun “Nyadran/Sadranan”, menjelang Ramadan adalah tradisi Masyarakat Nusantara yang memadukan ziarah kubur, doa bersama, sedekah, dan makan bersama. Ia menjadi simbol persiapan spiritual dan sosial untuk menyambut bulan suci, sekaligus menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan pada Leluhur.

Salah seorang tokoh budaya dari Banyumas adalah Suho:
– Pegiat Desa
– Pegiat Budaya
– Ketua Yayasan Sanggar KAMULYAN Sinduredja, Desa Karanganyar, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
– Anggota Jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN).
– Divisi Pegiat Desa di Komite Ekonomi Kreatif Jateng, Masa Bhakti Tahun 2024 – 2029.
– Ketua 1 Korda Banyumas Raya Komite Ekonomi Kreatif Jateng.
– Divisi Kebudayaan di DPD Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Provinsi Jawa Tengah, Masa Bhakti Tahun 2025 – 2030.
– Ketua DPD Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kabupaten Banyumas, Masa Bhakti Tahun 2025 – 2030. (Sariman Mbah gondrong)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *