Www SidikPolisi News’id Namlea “Kabupaten Buru’” (30/12/2025)
Oleh: Muz Latuconsina
Kaiely bukan sekadar petuanan; ia adalah rumah besar yang dibangun oleh ikatan darah, sumpah leluhur, dan ingatan bersama. Karena itu, dualisme Raja Kaiely hari ini terasa lebih perih: yang berhadap-hadapan bukan orang asing, melainkan saudara sendiri. Dalam pertikaian ini, yang terluka bukan hanya gelar adat, tetapi rasa persaudaraan yang selama ini menjadi jantung Kaiely.
Adat Kaiely tidak pernah mengajarkan perebutan. Ia diwariskan untuk menjaga keseimbangan—antara yang tua dan muda, antara kuasa dan kebijaksanaan, antara hak dan tanggung jawab. Ketika dua saudara berdiri pada satu singgasana, adat seakan kehilangan suara, dan rumah bersama menjadi sunyi oleh ketegangan yang tak perlu.
Editorial ini meyakini bahwa penyelesaian Raja Kaiely bukan semata urusan struktur adat, melainkan ujian kebesaran hati. Saudara yang berselisih sejatinya memiliki akar yang sama, sejarah yang sama, dan tanggung jawab yang sama terhadap anak cucu Kaiely. Tidak ada kemenangan sejati ketika persaudaraan dikorbankan; tidak ada kehormatan yang tumbuh dari perpecahan yang dipelihara.
Menunda penyelesaian hanya memperpanjang luka. Di luar lingkar adat, masyarakat menunggu kepastian. Para pencari nafkah menggantungkan harapan pada ketenangan petuanan, pada satu suara adat yang mampu menuntun jalan kerja dan kehidupan. Gunung Botak, sebagai ruang hidup bersama, menjadi saksi bahwa konflik saudara berdampak luas—menahan rezeki dan menunda masa depan.
Karena itu, jalan pulang harus dimulai dari kesadaran paling dasar: saudara tidak diciptakan untuk saling meniadakan. Musyawarah adat bukan arena pembuktian kekuatan, melainkan ruang untuk saling mendengar. Dalam duduk bersama, silsilah dibuka bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menempatkan kebenaran pada tempatnya, dan martabat pada ketinggiannya.
Kaiely tidak membutuhkan raja yang berdiri di atas kekalahan saudaranya. Kaiely membutuhkan raja yang lahir dari keikhlasan, diterima dengan lapang dada, dan dijaga oleh persaudaraan yang dipulihkan. Sebab hanya dengan itu adat kembali hidup, pemerintah berjalan searah, dan masyarakat dapat melangkah tanpa beban.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat siapa yang paling keras mempertahankan klaim, tetapi siapa yang paling besar mengalah demi rumah bersama. Ketika saudara memilih berdamai, adat menemukan jalannya pulang—dan Kaiely kembali utuh sebagai satu tubuh, satu jiwa, dan satu masa depan.*(“Besugi,AH”)*















