SUDAH DUA PULUH TAHUN, MAHMUD PEMUDA DESA MANDAONG USAHA GULA DARI POHON AREN
HAL – SEL// SidikPolisi News – Di sebuah desa kecil yang asri dan dikelilingi oleh hamparan hijau pepohonan di kaki pegunungan Bacan Selatan, tepatnya di Desa Mandaong, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, hidup seorang pemuda bernama Mahmud. Ia bukan sosok pemuda yang mengikuti arus urbanisasi ke kota-kota besar, melainkan tetap setia tinggal di desanya dan menjalani profesi yang diwariskan turun-temurun dari keluarganya: pembuat gula merah dari pohon aren.
Mahmud telah menekuni pekerjaan ini selama dua dekade penuh, sejak usianya masih belasan tahun. Kini, di usianya yang matang, Mahmud telah menjadi salah satu pembuat gula aren yang paling dikenal di kampungnya. Pekerjaan ini bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan kehidupannya sehari-hari.
Setiap hari, sejak fajar menyingsing, Mahmud memulai aktivitasnya dengan berjalan kaki ke kebun arennya yang terletak sekitar dua kilometer dari rumah. Dengan membawa peralatan sederhana seperti bambu penampung nira, pisau kecil, tali, dan ember, Mahmud menapaki jalan setapak yang telah akrab baginya. Setibanya di kebun, ia langsung memanjat pohon aren yang tinggi menjulang menggunakan tangga dari batang bambu. Dari pohon-pohon inilah Mahmud menyadap nira, cairan manis yang nantinya akan diolah menjadi gula merah.
Pekerjaan menyadap nira ini bukan perkara mudah. Diperlukan ketelitian, keseimbangan tubuh, dan keberanian. Setiap tetes nira yang menetes ke dalam bambu penampung adalah hasil dari kerja keras dan ketekunan. Setelah nira terkumpul, Mahmud kemudian memasaknya dalam wajan besar di atas tungku api berbahan kayu. Proses memasak ini membutuhkan waktu berjam-jam, hingga nira berubah menjadi adonan kental yang siap dicetak menjadi gula merah.
Proses ini dilakukan secara manual, tanpa bantuan mesin modern. Semua tahapan—dari penyadapan, pengumpulan, pemasakan, hingga pencetakan—dikerjakan sendiri oleh Mahmud dengan penuh kesabaran. Inilah yang membuat gula merah hasil produksi Mahmud memiliki cita rasa khas yang tidak bisa ditemukan di produk pabrik.
Meski teknologi telah berkembang pesat, Mahmud tetap memilih mempertahankan cara tradisional karena menurutnya, inilah cara terbaik untuk menjaga kualitas dan keaslian rasa gula aren. Ia percaya bahwa setiap tetes keringat dan kerja keras yang dicurahkan dalam proses ini membawa berkah tersendiri.
Namun, menjadi pembuat gula merah bukan tanpa tantangan. Harga jual yang fluktuatif, sulitnya akses ke pasar yang lebih luas, serta minimnya perhatian dari pemerintah terhadap pelaku usaha kecil seperti Mahmud sering menjadi hambatan. Meski demikian, semangat Mahmud tidak pernah surut. Ia terus bekerja dengan penuh dedikasi, bahkan mulai mengajarkan keterampilan ini kepada anak-anak muda di desanya agar tradisi ini tidak punah.
Bagi Mahmud, pekerjaan ini bukan hanya soal mencari nafkah, tapi juga bentuk kecintaannya pada alam dan budaya lokal. Ia percaya bahwa selama ia bisa menjaga dan merawat pohon aren, maka pohon-pohon itu juga akan terus memberikan kehidupan bagi dirinya dan keluarganya.
Selama dua puluh tahun, Mahmud telah menjadi saksi bagaimana alam dan manusia bisa hidup berdampingan secara harmonis. Gula merah buatannya telah menjadi bagian penting dari dapur-dapur masyarakat setempat, digunakan untuk memasak, membuat kue, hingga sebagai pemanis alami minuman tradisional.
Di tengah derasnya modernisasi, sosok Mahmud adalah cerminan kekuatan dan keteguhan hati seorang anak desa yang memilih bertahan dan menjaga warisan leluhur dengan penuh kebanggaan.(LM.Tahapary)















